Warga Iran Bertahan di Tengah Perang dan Pemadaman Internet Jelang Nowruz

- Senin, 16 Maret 2026 | 10:40 WIB
Warga Iran Bertahan di Tengah Perang dan Pemadaman Internet Jelang Nowruz

Selasa malam lalu, Teheran diselimuti putih. Salju turun di beberapa sudut kota, menghapus sementara bayangan hitam yang menggantung sejak depot minyaknya dihantam rudal.

Langit yang sempat pekat oleh asap dan hujan hitam itu kini berubah. Tapi di bawah lapisan salju yang tenang, kehidupan warga Iran terus bergulir dalam irama yang aneh. Perang belum berakhir, namun orang-orang berusaha bertahan dengan caranya sendiri.

Ambil contoh Sahar. Perempuan berusia dua puluhan ini menghabiskan hari-harinya dengan berkutat di dalam rumah. Memasak, membaca, atau larut dalam dunia game simulasi kehidupan.

"Anehnya, justru di tengah perang kreativitas saya malah melonjak. Stres yang terus-menerus itu akhirnya saya salurkan untuk membangun 'rumah yang lebih indah' di dalam game," ujarnya.

Namun begitu, kenyataan selalu menyergap. Pada hari Selasa itu juga, Sahar mengetahui seorang perempuan yang pernah sekelas dengannya tewas. Namanya, seperti nama narasumber lain di tulisan ini, telah diubah demi keamanan.

"Jenazahnya bahkan belum ditemukan. Saya terpukul sekali mendengarnya," katanya, lirih.

"Kenapa kami harus mengalami hal-horor seperti ini di usia yang seharusnya paling indah? Saya cuma berharap semua ini usai sebelum Nowruz. Awal musim semi selalu jadi hari favorit saya."

Nowruz, festival Tahun Baru Persia yang menandai datangnya musim semi, biasanya adalah momen sukacita. Keluarga berkumpul, pasar ramai oleh warga yang membeli manisan dan kacang untuk menjamu tamu. Tapi tahun ini, suasana itu seperti mimpi. Setidaknya itulah yang dirasakan warga Teheran.

"Sama sekali tidak ada nuansa Nowruz. Tapi ya, meski rudal terus berjatuhan, hidup harus jalan. Kami tidak punya pilihan lain," kata Peyman, seorang pria tiga puluhan.

Dia menggambarkan kota yang lengang. "Metro kosong melompong. Bisa dibilang, untuk satu penumpang ada 30 sampai 40 kursi kosong. Jalanan juga sepi sekali. Sepi sampai kamu bisa main sepak bola di tengah jalan raya tanpa gangguan."

Kosongnya kota mungkin juga karena banyak yang mengungsi. Teheran dan sekitarnya yang biasa dihuni sekitar 14 juta jiwa itu telah ditinggalkan sebagian warganya sejak serangan AS-Israel mulai intens akhir Februari lalu. Mereka mencari tempat yang lebih aman, banyak yang menuju kawasan utara dekat Laut Kaspia yang relatif lebih tenang.

Mina, perempuan dua puluhan, adalah salah satu yang pergi ke Rasht. Keputusannya tidak mudah.

"Keluarga saya mendesak untuk mengungsi ke rumah nenek di Rasht, tapi sahabat sekamar saya ogah meninggalkan Teheran. Saya merasa bersalah kalau pergi tanpa dia, jadi sempat menolak," kenangnya.

Semua berubah pada malam depot minyak itu dibombardir. "Apartemen kami bergetar hebat. Semua jendela tiba-tiba terang benderang, seperti sudah pagi."

Keesokan harinya, Mina berangkat. Mobil yang ditumpanginya penuh bercak hitam hujan yang tercemar. "Sahabat saya memilih tetap di Teheran. Saya telepon dia tiap hari sekarang. Kami ngobrol tentang hal-harap seru yang akan kami lakukan kalau perang selesai. Mungkin kami akan warnai rambut jadi lebih terang," ujarnya.

Di tengah semua ini, berkomunikasi adalah tantangan besar. Pemerintah memberlakukan pemadaman internet sejak perang berkecamuk. Tapi di balik kesulitan, selalu ada celah.

Beberapa warga yang melek teknologi memanfaatkan Starlink. Sistem internet satelit itu jadi jalur hidup, menghubungkan mereka dengan dunia luar. Cara kerjanya sederhana: jaringan satelit di angkasa berkomunikasi dengan piringan kecil di darat. Tapi risikonya besar. Memakai Starlink di Iran bisa berujung dua tahun penjara. Aparat dikabarkan aktif memburu perangkat-perangkat ini.

Mehran, pemuda Teheran, nekad. Dia membagi koneksi Starlink miliknya ke setidaknya 25 orang. Perangkatnya disembunyikan di "lokasi terpencil" agar aman dari sitaan atau gangguan sinyal.

"Saya kasih akses gratis ke orang-orang terdekat," katanya. Meski begitu, di pasar gelap Telegram, akses 1GB data Starlink dijual sekitar 90 ribu rupiah. Harga yang sangat mahal, mengingat gaji rata-rata bulanan warga Iran berkisar antara 3 hingga 4,5 juta rupiah.

Shima, warga Teheran lainnya, adalah salah satu pengguna yang harus membayar mahal untuk koneksi itu.

"Kamu harus beli dari orang yang benar-benar bisa dipercaya. Kalau tidak, habis bayar mahal, koneksinya bisa diputus begitu saja," ujarnya.

Lembaga pemantau NetBlocks melaporkan pemadaman internet telah masuk hari ke-12, dengan konektivitas hanya sekitar 1% dari kondisi normal. Situasi yang sangat memprihatinkan.

"VPN Starlink yang harganya selangit itu butuh waktu lama untuk terhubung. Saya sempat ragu, apa worth it?" kata Shima.

"Tapi setidaknya, saya bisa kasih kabar ke keluarga dan teman di luar negeri bahwa saya belum jadi arang, bahwa saya masih bernapas."

Di balik langit yang kadang putih oleh salju, kadang hitam oleh asap, itulah secuil cerita tentang upaya bertahan. Tentang kehidupan yang dipaksakan berjalan di tengah jalanan yang sepi.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar