Keempat, pemerintah perlu merancang insentif nyata yang mendorong pelepasan saham ke publik secara sehat. Bukan sekadar imbauan.
Kelima, dialog dengan penyedia indeks global harus dilakukan secara setara. Jadikan mereka mitra reformasi, bukan dianggap sebagai musuh.
Optimisme itu perlu, tapi harus dibangun di atas realisme. Pernyataan soal penggorengan pasar justru menegaskan bahwa masalah utama kita bukan kekurangan potensi, tapi kurangnya keberanian untuk membenahi struktur dari dalam.
Pasar modal adalah cermin kualitas institusi ekonomi sebuah negara. Jika reformasi dilakukan dengan konsisten dan tegas, kepercayaan investor akan pulih dengan sendirinya. Retorika wajib diikuti aksi nyata.
Kita bisa belajar dari Korea Selatan. Secara empiris, mereka membuktikan bahwa tekanan dari lembaga indeks global bukanlah bentuk delegitimasi. Itu adalah mekanisme disiplin yang tak terhindarkan bagi negara yang bercita-cita menjadi kekuatan ekonomi menengah-atas.
Pasca krisis Asia 1997, kondisi pasar saham Korea mirip dengan kita sekarang: kepemilikan terpusat pada konglomerat, free float rendah, transaksi afiliasi yang tak transparan, dan volatilitas tinggi.
Yang dilakukan pemerintah Korea? Mereka tidak sibuk berkelit atau bersembunyi di balik nasionalisme sempit. Justru, mereka meluncurkan reformasi institusional yang keras. Mereka mewajibkan peningkatan free float, memperketat transparansi kepemilikan, merestrukturisasi tata kelola korporasi, dan memperkuat otoritas pengawas. Hasilnya bisa dilihat dalam data: likuiditas membaik, kepercayaan investor global kembali, dan Korea berhasil mempertahankan posisinya di indeks global dengan kapitalisasi pasar yang stabil.
Fakta itu berbicara jelas. Problem pasar modal bukan soal sentimen atau konspirasi luar. Ia adalah cerminan kualitas institusi domestik kita. Dan satu-satunya solusi adalah keberanian politik untuk reformasi struktural. Bukan penyangkalan.
Alarm sudah berbunyi keras. Sekarang saatnya bertindak. Dengan kepala dingin, tapi tangan yang tegas dan berani. Visi kita ke depan, menuju Indonesia Emas 2045, harus dimulai dengan fondasi pasar modal yang kokoh. Seperti yang juga saya singgung dalam buku Presiden Prabowo, 'Strategi Transformasi Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045'.
Prof. Dr. Murpin Josua Sembiring, S.E., M.Si.
Ketua DPD Persatuan Profesor/Gurubesar Indonesia (Pergubi) Provinsi Jawa Timur
Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen Entrepreneurship Universitas Ciputra
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 3,4 Guncang Lumajang Dini Hari
Anggota DPRD Pelalawan Diperiksa Polisi Terkait Ijazah Orang Lain
Politisi Mali Divonis Tiga Tahun Penjara di Pantai Gading Atas Tuduhan Hina Presiden
Kasus Hogi Minaya Ditutup, Kejari Sleman: Demi Kepentingan Hukum