Kapolda Metro Jaya Apresiasi Bhabinkamtibmas yang Gulirkan Sekolah untuk Anak Putus Sekolah

- Jumat, 30 Januari 2026 | 17:45 WIB
Kapolda Metro Jaya Apresiasi Bhabinkamtibmas yang Gulirkan Sekolah untuk Anak Putus Sekolah

Jumat siang itu, suasana di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Maju Bersama di Kembangan, Jakarta Barat, terasa berbeda. Kedatangan Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri beserta rombongan, termasuk Pangdam Jaya Deddy Suryadi, mengundang perhatian warga. Kunjungan ini bukan sekadar seremonial belaka. Tujuannya jelas: memberikan penghargaan langsung kepada Bhabinkamtibmas setempat, Ipda Agus Riyanto, yang selama enam tahun terakhir berjuang membangun dan mengelola sekolah tersebut.

Acara dimulai dengan makan siang bersama. Di sebuah ruangan sederhana, Kapolda, Pangdam, dan para pejabat duduk lesehan bercengkerama dengan wali murid, anak-anak didik, serta tokoh masyarakat setempat. Suasana akrab dan cair, jauh dari kesan kaku.

Usai santap siang, momentum puncak tiba. Di hadapan semua yang hadir, Irjen Asep Edi Suheri maju dan menyerahkan penghargaan kepada Ipda Agus. Penghargaan itu, kata Kapolda, adalah bentuk apresiasi nyata bagi anggota polisi yang tak cuma menegakkan hukum, tapi juga hadir dan mengabdi di tengah komunitas.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, yang turut hadir, menyoroti makna kunjungan itu.

"Kunjungan Bapak Kapolda dan Pangdam memberikan semangat dan spirit luar biasa bagi jajaran satuan kewilayahan, khususnya Pak Bhabinkamtibmas. Ini juga apresiasi untuk Pak Agus dan seluruh warga yang terlibat di TPA Maju Bersama," ujar Budi.

Lantas, bagaimana cerita di balik berdirinya TPA Maju Bersama ini? Ipda Agus Riyanto, sang penggagas, membeberkannya dengan sederhana. Ide awalnya muncul dari keprihatinan melihat banyak anak di sekitarnya yang tak bisa mengenyam pendidikan formal. Entah karena putus sekolah, atau bahkan sama sekali tak pernah merasakan bangku sekolah.

"Tujuannya ya sederhana: memberi pendidikan bagi yang tak bisa sekolah formal. Mereka ini butuh kesempatan," tutur Agus.
"Dengan sekolah ini, mereka dapat pembelajaran yang diakui dinas pendidikan. Nantinya, mereka punya ijazah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi atau mencari pekerjaan yang lebih baik," lanjutnya penuh semangat.

Menariknya, respons masyarakat ternyata sangat positif. Bukan cuma mendukung, warga sekitar bahkan ikut turun tangan mengelola sekolah ini secara sukarela. Menurut Agus, segala kebutuhan operasional mulai dari tempat, alat tulis, hingga listrik dan air diswadayakan oleh masyarakat.

Agus menyadari betul bahwa kehadiran sekolah ini amat dibutuhkan. Faktor ekonomi menjadi penghalang utama bagi banyak keluarga di sana untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Tak hanya itu, kendala administratif juga sering menjadi tembok yang sulit dilewati.

Setelah enam tahun berjalan, hasilnya mulai terlihat. Saat ini, ada sekitar 120 murid yang aktif belajar. Rinciannya, 68 anak untuk program PPA dan 61 anak untuk sekolah paket atau PKBM. Angka itu mungkin tak besar, tapi bagi Agus dan warga, itu adalah sebuah pencapaian yang sangat berarti.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar