Bau menyengat yang tak tertahankan kembali memaksa warga Rorotan, Jakarta Utara, untuk berunjuk rasa. Kali ini, keluhan mereka berhasil membuat Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, turun langsung ke lokasi dan mengambil tindakan tegas.
“Untuk sementara, saya minta operasinya di-stop dulu,” tegas Pramono saat berdialog dengan warga, Jumat (30/1/2026) lalu.
Harapannya, langkah ini bisa meredakan ketegangan sekaligus memberi waktu mencari solusi atas masalah transportasi sampah di kawasan itu.
Menurut Pramono, inti persoalannya bukan terletak pada proses pengolahan di fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) itu sendiri. Dia bilang, RDF Rorotan sudah beberapa kali uji coba dengan kapasitas ratusan ton per hari dan berjalan tanpa kendala berarti. Masalahnya justru muncul jauh sebelum sampah sampai di tempat pengolahan.
“Begitu angkutan dilakukan, ada air lindinya jatuh, netes-netes. Inilah yang kemudian menyebabkan protes masyarakat,” ujarnya menerangkan.
Armada pengangkut sampah yang sudah tua dan tak layak pakai itu disebut sebagai biang keladi. Air lindi yang menetes sepanjang jalan dari truk-truk itulah sumber bau busuk yang terus dikeluhkan warga.
Di sisi lain, dalam dialog yang cukup emosional itu, beberapa warga menyampaikan dampak yang mereka rasakan. Bukan cuma soal bau, tapi juga gangguan kesehatan fisik dan tekanan mental yang mulai mengganggu.
Artikel Terkait
Selandia Baru Tolak Undangan Trump untuk Bergabung dengan Dewan Perdamaian
Kapolres Jaksel Ngopi di Gang Manggarai, Dengar Keluhan Warga Soal Tawuran dan Narkoba
Kebon Pala Terendam Dua Meter, Polairud Berjibaku Evakuasi Warga
Haedar Nashir Kritik Wacana Polri di Bawah Kementerian: Itu Mundur dari Reformasi