Ancaman untuk menutup selat itu juga bukan kali pertama. Awal pekan, Mohammad Akbarzadeh, deputi politik Angkatan Laut IRGC, kembali melontarkan kemungkinan itu.
"Iran memiliki intelijen secara real-time di Selat Hormuz, di atas dan di bawah permukaan. Keamanan jalur strategis ini sepenuhnya bergantung pada keputusan Teheran," ujarnya.
Namun begitu, dia juga mencoba memberi penjelasan. "Kami tidak ingin ekonomi dunia menderita. Tapi Amerika dan para pendukung mereka, percayalah, tidak akan mendapat manfaat dari perang yang mereka mulai," tegas Akbarzadeh.
Ancaman serupa sudah sering terdengar. Tapi sampai sekarang, selat itu tetap ramai dilalui kapal tanker. Latihan awal Februari nanti mungkin jadi cara Iran menunjukkan taring, sekaligus mengingatkan semua pihak betapa vitalnya kawasan itu bagi mereka.
Artikel Terkait
Jokowi Bantah Terkait Korupsi, Sebut Nama Dirinya Wajar Diseret Menteri
Spesialis Ganjal ATM Diciduk di Siantar, Modus Lem Setan dan Telepon Palsu
Gus Yaqut Kembali ke KPK, Bawa Catatan untuk Kasus Kuota Haji
Jokowi Mendarat di Makassar, Persiapan Arahan Penting untuk Kader PSI