Hujan masih terus mengguyur Ibu Kota, dan ancaman banjir belum juga reda. Menyikapi hal ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya memutuskan untuk kembali menggencarkan normalisasi dua sungai: Kali Cakung Lama dan Sungai Ciliwung. Langkah ini diambil sebagai upaya konkret menekan genangan air yang kerap melumpuhkan kota.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, punya alasan kuat. Menurut informasi terbaru dari BMKG, curah hujan diprediksi masih akan tinggi-tingginya hingga awal Desember nanti. Makanya, penanganan di titik-titik rawan banjir harus dipercepat, tak bisa ditunda lagi.
“Mengingat curah hujan yang diperkirakan dari hasil BMKG masih tinggi, maka penanganan pada Kali Cakung Lama dan juga Kali Angke untuk mengurangi genangan yang ada di wilayah tersebut kami putuskan untuk segera dimulai,”
kata Pramono, usai memimpin Rapat Terbatas di Balai Kota, Kamis lalu.
Normalisasi Kali Cakung Lama, jelasnya, akan jadi prioritas utama Pemprov DKI untuk penanganan banjir jangka menengah. Sementara untuk Sungai Ciliwung, pekerjaan akan fokus pada pembangunan tanggul atau turap. Namun begitu, ada pembagian tugas di sini.
“Untuk normalisasi Ciliwung yang akan membangun tanggul atau turapnya adalah Kementerian PUPR. Sedangkan untuk Cakung Lama dilakukan oleh Pemerintah DKI Jakarta,”
ujarnya merinci.
Tak cuma itu, ada langkah lain yang juga disepakati. Lahan-lahan yang sudah dibebaskan di sepanjang bantaran sungai akan segera dibersihkan. Setelah itu, langsung dilanjut dengan pembangunan turap. Harapannya, dengan cara ini proses normalisasi bisa lebih cepat dan potensi banjir saat hujan lebat bisa ditekan.
Di sisi lain, rapat itu juga menghasilkan keputusan untuk membangun embung atau Waduk Polor di Bendung Polor, Kali Angke. Fungsinya sederhana tapi krusial: menahan sebagian debit air hujan agar tidak semuanya langsung meluncur deras ke Cengkareng Drain.
“Itu dilakukan untuk mengurangi curah hujan yang ada di Kali Angke supaya berkurang di embung tersebut, tidak semuanya langsung turun ke Cengkareng Drain,”
jelas Pramono.
Lalu, bagaimana dengan anggarannya? Pramono mengakui bahwa kebutuhan dana untuk menormalisasi Kali Cakung Lama sifatnya dinamis, mengingat ini adalah program jangka menengah. Tapi ia memastikan, dana sudah disiapkan.
“Untuk bulan Februari saja kita butuh 132 miliar rupiah dan sudah disetujui,”
ungkapnya.
Soal progres pengerjaan, sebagian segmen Kali Cakung Lama konon sudah mulai dikerjakan. Namun, ada bagian yang masih jadi hambatan, terutama di wilayah Cilincing. Untuk segmen ‘bottleneck’ ini, penyusunan anggarannya akan segera dilakukan dan dijadikan prioritas dalam APBD Perubahan.
“Secara prinsip dari total sekitar 8,5 kilometer itu anggarannya sudah ada, hanya memang yang di ujung belum ada. Tapi itu sudah saya setujui dan menjadi prioritas,”
pungkas Gubernur menegaskan.
Artikel Terkait
KPK Buka Suara soal Video Viral Tahanan Baju Oranye di Bandara: Prosedur Pemindahan untuk Sidang
Sengketa Internal FSPMI Berujung ke PN Jakarta Timur, Mediasi Dinilai Terhambat karena Tergugat Tak Kooperatif
Polisi Tetapkan Dua Pengasuh Baru sebagai Tersangka Penganiayaan Bayi di Daycare Banda Aceh
MTI: Sistem Persinyalan Jadi Akar Masalah Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur