"Namun, penerapannya harus disesuaikan dengan tingkat risiko aktual dan bukti ilmiah yang ada. Tujuannya jelas: efektif melindungi masyarakat tanpa menimbulkan kepanikan atau gangguan yang tidak perlu bagi aktivitas perjalanan," sambung Nihayatul.
Aspek lain yang tak kalah penting adalah komunikasi. Ia menekankan, informasi yang disebarkan pemerintah harus akurat dan mudah dicerna publik. Jangan sampai malah bikin resah.
"Selain itu, Komisi IX menilai komunikasi risiko kepada masyarakat menjadi aspek yang sangat penting. Informasi yang disampaikan pemerintah harus akurat, tidak berlebihan, dan mudah dipahami," katanya.
Termasuk di dalamnya, sosialisasi langkah pencegahan sederhana. Misalnya, menjaga kebersihan makanan, menghindari konsumsi produk yang berpotensi terkontaminasi, dan tidak melakukan kontak dengan hewan-hewan yang berisiko menjadi penular.
Sementara itu, dari pihak pemerintah, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, telah mengonfirmasi peningkatan kewaspadaan ini. Ia mengungkap angka yang cukup serius.
"Ini yang memang harus diwaspadai oleh masyarakat. Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, artinya ditularkan dari hewan ke manusia," ujar Aji di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (27/1/2026).
Menurutnya, pada pasien dengan gejala berat, tingkat fatalitasnya bisa mencapai 40 hingga 70 persen. Angka itu jelas tidak bisa dianggap remeh. Maka, kewaspadaan semua pihak mutlak diperlukan.
Artikel Terkait
Daan Mogot Lumpuh Lagi, Genangan 30 Cm Picu Antrean 5,5 Km
Mobil Hangus Terbakar di Lapangan Parkir Citeureup Diduga Akibat Korsleting
Kebon Pala Terendam 135 Sentimeter, Warga Bertahan di Lantai Dua
Banjir 50 Cm di DI Panjaitan, Polisi Berlakukan Contra Flow untuk Motor