Meski konfliknya sudah berakhir damai, Komnas Perlindungan Anak ternyata belum berhenti mendampingi. Mereka masih terus memperhatikan si anak influencer yang jadi korban dugaan bullying dan pelecehan di sebuah SMPN di Jakarta Timur itu. Fokus mereka sekarang? Memastikan sekolah benar-benar bisa jadi tempat yang aman dan nyaman, terutama buat sang korban.
"Urusannya nggak cuma beres di meja perundingan," kata Wakil Komnas PA DKI, Hagistio Pradika, saat ditemui di Halim, Rabu lalu.
Dia melanjutkan, "Kami tetap mengedepankan hak-hak anak. Proses pemulihan mental dan psikisnya harus jalan. Yang nggak kalah penting, keamanan dan kenyamanan di sekolah harus dijaga. Jangan sampai setelah damai-damai malah muncul masalah baru, bikin dia nggak betah."
Di sisi lain, Komnas PA juga menyoroti peran Dinas Pendidikan. Menurut Hagistio, kasus perundungan di sekolah-sekolah itu masih banyak terjadi, butuh perhatian serius.
"Saya minta Dinas Pendidikan bisa lebih aware, lebih peduli lagi sama kasus-kasus bully di Jakarta. Ayo kita cegah bersama," tegasnya.
Nah, yang bikin prihatin, Hagistio menegaskan kasus yang menimpa anak SMP ini bukan lagi sekadar kenakalan remaja biasa. Dia bilang, ini sudah masuk kategori kejahatan.
"Bahasa yang dipakai dalam kasus ini bukan bahasa anak nakal lagi, tapi bahasa dewasa. Makanya kami artikan ini sebagai kejahatan, bukan kenakalan," jelasnya.
Ceritanya bermula dari rencana tahun baru yang gagal. Korban, seorang remaja putri berinisial C yang anak dari influencer H, awalnya diajak temannya, R, untuk merayakan tahun baru. Tapi akhirnya C memilih ikut ibunya ke Yogyakarta.
Belakangan, terungkap kabar mengejutkan. H mendapat cerita kalau R punya rencana untuk membius C jika ajakan itu jadi. Parahnya, C diduga sudah mengalami perundungan verbal sejak awal tahun 2025.
"Waktu dengar gosip itu, anak saya langsung konfrontasi," kisah H, seperti dilansir Antara.
"Dia tanya, 'kamu kemarin ngajakin aku tahun baruan mau ngebius?' Si R cuma jawab, 'iya, tapi aku cuma bercanda kok.' Selalu begitu dalihnya, cuma bercanda," ujarnya.
Masalahnya makin runyam. C juga sempat menegur R karena membahas hal-hal tidak pantas soal kakaknya di sebuah grup percakapan yang diisi puluhan siswa. Sungguh, kasus yang kompleks dan meninggalkan luka mendalam.
Artikel Terkait
Empat Prajurit TNI Disidang di Pengadilan Militer atas Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS, Terungkap dari Ketidakhadiran Dua Anggota saat Apel Pagi
Megawati Berduka Atas Tragedi Kereta di Bekasi, Instruksikan Rapat Pembenahan Sistem Transportasi
Kiper Persis Solo Muhammad Riyandi Dipanggil ke Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026
Menteri Perhubungan Serahkan Pengelolaan Prasarana ke PT KAI Usai Kecelakaan di Bekasi Timur