Di Kelurahan Sukarat, Kecamatan Majasari, sebuah Sentral Pengolahan Pangan dan Gizi (SPPG) bersiap menjalankan peran barunya. Kali ini, mereka akan mendukung program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Yang menarik, SPPG ini mengusung konsep "dapur ekosistem" dan fokus distribusinya bakal mengarah ke pondok pesantren salafiyah di wilayah Pandeglang, Banten.
Selama ini, sasaran MBG memang beragam. Mulai dari pelajar, ibu hamil, sampai lansia sudah merasakan manfaatnya. Nah, menurut Kepala SPPG setempat, Mulyadi, kini giliran para santri yang mendapat perhatian khusus.
"Kita distribusikan ke pesantren-pesantren salafiyah yang selama ini belum dapat distribusi," ujar Mulyadi kepada awak media, Selasa lalu.
Ia menjelaskan, dapur ekosistem ini memang sengaja difokuskan untuk membantu santri-santri di pesantren salafiyah.
Tapi, jalan menuju distribusi yang lancar ternyata tidak mulus. Ada kendala teknis yang menghadang. Rupanya, banyak pesantren salafiyah yang belum memiliki EMIS, sistem informasi dari Kementerian Agama. Padahal, itu jadi salah satu syarat penting.
"Syarat ponpesnya yang sudah terdaftar EMIS-nya di Kemenag," tegas Mulyadi.
Soal berapa tepatnya pesantren yang akan menerima, Mulyadi belum bisa merinci. Namun, targetnya cukup ambisius. Dapur ekosistem ini ditargetkan mampu menyediakan makanan untuk sekitar enam ribu santri.
"Untuk salafiyah mau 6 ribu juga bisa," katanya mantap.
Di sisi lain, skema ini juga punya dampak ekonomi yang menarik. Bahan baku untuk pengolahan makanan di SPPG sepenuhnya diambil dari petani lokal. Tujuannya jelas: memberdayakan mereka.
"Jadi semua petani yang kita biayai, kita bantu pupuknya, bibitnya dia akan menjual ke sini ke dapur kita," pungkas Mulyadi, menggambarkan siklus yang diharapkan saling menguntungkan.
Artikel Terkait
Polda Sumsel Perkuat Pengamanan May Day 2026, Tekankan Dialog dan Zero Conflict
Anggota DPR Desak Audit Keselamatan Total dan Penanganan Krisis Logistik Usai Tragedi KA di Bekasi Timur
Pemprov Jakarta Siapkan 900 Sapi Kurban untuk Idul Adha 1447 H, Jamin Kualitas dan Layanan Higienis
Korban Kecelakaan KA Argo Bromo–KRL di Bekasi: Gita, Mahasiswi Ber-IPK 3,89 yang Bercita-cita Kuliah ke Eropa dan Umrahkan Orangtua