Kabut tipis masih menyelimuti perbukitan Cisarua, Bandung Barat, Minggu lalu. Di tengah suasana itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian berdiri menatap lokasi longsor di Desa Pasirlangu. Raut wajahnya serius. Bencana yang terjadi beberapa hari sebelumnya bukan hanya meninggalkan guratan tanah merah yang menganga, tapi juga duka. Ada korban jiwa, dan beberapa warga masih dinyatakan hilang.
"Saya turut berduka atas musibah ini, ada yang wafat, kemudian juga ada yang masih hilang dalam pencarian,"
ucap Tito dalam keterangan tertulisnya.
Menurutnya, hujan deras memang jadi pemicu. Namun begitu, akar masalahnya lebih dalam. Struktur tanah di kawasan itu sendiri sudah bermasalah cenderung gembur dan kurang kokoh. Beban sedikit saja bisa membuatnya amblas.
Faktor lain yang ia soroti adalah perubahan lanskap perbukitan. Banyak tanaman pelindung, yang akarnya kuat menancap ke dalam tanah, telah digantikan dengan kebun sayur dan tanaman hortikultura jangka pendek.
"Tanaman pelindungnya yang akarnya menancap ke dalam ya, yang bisa memperkuat struktur tanah itu, banyak berganti hortikultura, sayur-sayuran lain-lain ini ya. Nah itu membuat rentan sekali kalau terjadi hujan deras,"
jelas Tito.
Untuk saat ini, upaya terpusat pada dua hal: mencari korban hilang dan memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi. Tito mengapresiasi kerja sama semua pihak di lapangan, mulai dari relawan, TNI-Polri, hingga pemerintah daerah dan pusat yang bahu-membahu.
"Dari Pak Gubernur, kemudian dari Pak Bupati, jajaran, TNI, Polri, relawan, pemerintah pusat, semua bergerak untuk membantu,"
ungkapnya.
Tapi langkah darurat saja tidak cukup. Ke depan, Tito bersikeras soal relokasi. Kawasan ini, tegasnya, sudah tidak layak huni demi keselamatan warga. Di sisi lain, upaya pemulihan lingkungan harus segera dimulai dengan reboisasi. Menanam kembali pohon berakar kuat adalah keharusan untuk mengikat tanah.
"Ini harus direboisasi, ditanam. Tanaman-tanaman yang akarnya yang keras, supaya struktur tanahnya bisa menguat kembali. Kalau kembali lagi nanti akan longsor lagi,"
tegasnya.
Peristiwa di Pasirlangu ini, baginya, adalah alarm keras. Ia mendorong setiap daerah untuk belajar dan segera memperkuat kebijakan tata ruangnya. Pemetaan wilayah rawan bencana, khususnya untuk ancaman hidrometeorologi seperti hujan ekstrem, harus jadi prioritas nasional.
"Ini juga menjadi pelajaran bagi kita untuk daerah-daerah lain, untuk memperkuat tata ruang. Daerah-daerah rawan seperti ini harus kita petakan,"
kata Tito.
"Setiap bupati, wali kota, gubernur harus kita petakan secara nasional. Untuk kita memikirkan potensi kalau terjadi kerawanan hidrometeorologi seperti ini, hujan lebat, hujan deras,"
tutupnya. Langkah pencegahan, meski butuh waktu dan biaya, jelas tak bisa ditawar lagi.
Artikel Terkait
Kepala Staf AD Israel Peringatkan Prajurit soal Penjarahan di Lebanon Selatan
Prabowo Perintahkan Perbaikan 1.800 Titik Lintasan Kereta Api di Jawa, Anggaran Rp4 Triliun
Anggota DPR Buka Sayembara Berhadiah bagi Pelapor Kecurangan Distribusi BBM Subsidi
Prabowo Perintahkan Perbaikan 1.800 Perlintasan Kereta Api Usai Kecelakaan Maut di Bekasi