UKSW Ciptakan Batik dari Rumus Matematika, Sulap Sains Jadi Motif Kontemporer

- Minggu, 14 Juni 2026 | 16:45 WIB
UKSW Ciptakan Batik dari Rumus Matematika, Sulap Sains Jadi Motif Kontemporer

Batik, warisan adiluhung Nusantara, tidak lagi sekadar berkutat pada pakem motif klasik atau goresan estetika visual semata. Di tangan para akademisi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah, rumus-rumus matematika yang rumit dan sering dianggap menakutkan disulap menjadi motif batik kontemporer yang indah dan sarat makna edukatif. Inovasi ini diberi nama Batima, singkatan dari Batik Inovasi Matematika.

Berbeda dengan batik fraktal yang mengandalkan konsep perulangan geometris mandiri, Batima dirancang dengan pendekatan yang lebih kompleks dan terstruktur. Setiap motifnya berasal dari formula matematika tertentu, seperti persamaan parametrik dua dimensi yang dimodifikasi menjadi tiga dimensi, kurva aljabar, atau persamaan permukaan matematis. Para peneliti menggunakan perangkat lunak Surfer untuk menggambarkan persamaan permukaan tersebut menjadi objek visual tiga dimensi yang estetis.

Gagasan ini dipelopori oleh Hanna Arini Parhusip, Guru Besar Fakultas Sains dan Matematika (FSM) UKSW, bersama tim peneliti yang terdiri atas Hindriyanto Dwi Purnomo, Didit Budi Nugroho, dan almarhum Istiarsi Saptuti Sri Kawuryan. Sejak 2016, melalui hibah dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi kini menjadi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mereka memulai perjalanan mengubah persepsi masyarakat terhadap matematika melalui pendekatan etnomatematika.

”Matematika itu dianggap sulit dan tidak menarik oleh orang umum. Untuk memberikan motivasi bagi masyarakat, matematika perlu dibedakan dalam bentuk objek yang mudah dilihat dan digunakan,” ujar Hanna akhir Mei 2026 lalu.

Proses pembuatan Batima melibatkan serangkaian tahapan ilmiah dan artistik yang presisi. Dimulai dari pemilihan formula matematika spesifik di laboratorium riset, kemudian divisualisasikan menggunakan perangkat lunak Surfer. Hasil rendering tersebut, menurut Hanna, bukan hanya visualisasi akademis, tetapi juga inspirasi artistik yang akan ditransformasi lebih lanjut.

Tahap paling krusial adalah transformasi dan penyusunan pola. Objek visual tiga dimensi tidak langsung dicetak ke kain, melainkan melalui proses dekonstruksi visual. Tim desainer menganalisis struktur geometris, mengidentifikasi elemen kunci, lalu merekonstruksi pola agar sesuai dengan estetika batik tradisional. Hal ini untuk memastikan motif yang dihasilkan tetap mempertahankan karakter batik Indonesia sambil mengekspresikan keindahan formula matematika.

Pola digital yang telah matang kemudian diaplikasikan ke kain melalui tiga teknik produksi: batik tulis menggunakan canting dan malam, batik cap dengan stempel tembaga khusus, atau batik printing modern untuk produksi massal. Tahap terakhir adalah pewarnaan dan finishing, di mana para peneliti berkolaborasi dengan perajin batik tradisional seperti Batik Tumpengan di Salatiga untuk memastikan standar kualitas pasar yang tinggi.

Hingga kini, penelitian yang telah berjalan sepuluh tahun ini melahirkan sedikitnya 12 motif yang telah terdaftar hak ciptanya. Setiap motif merepresentasikan variasi formula matematis yang unik dengan nama-nama yang mencerminkan karakteristik visual maupun matematisnya. Misalnya, motif Saroja-Math yang divisualisasikan dengan kelopak bunga saroja berbasis modifikasi kurva parametrik, dan motif Marabunta-Math dalam pola menyerupai koloni semut marabunta dari persamaan permukaan aljabar.

Ada pula motif Pseudo Infinity yang merupakan representasi visual dari konsep ketakterhinggaan semu yang dinamis, serta motif DB-HEXAGON yang divisualisasikan dalam bentuk struktur heksagonal ganda melambangkan keseimbangan matematis. Motif Batima Trumpet Family v2 merupakan modifikasi persamaan corong terompet dalam proyeksi tiga dimensi.

Selain di kain, motif Batima diaplikasikan pada berbagai produk kriya harian seperti tas, taplak meja, sarung bantal, hingga aksesoris dekoratif yang diberi nama Odema, singkatan dari Ornament Decorative of Mathematics. UKSW juga merangkul jejaring mitra produksi batik dari berbagai daerah untuk memastikan inovasi tidak berhenti pada tahap desain.

Di Salatiga, kolaborasi dijalin dengan Batik Tumpengan untuk proses produksi batik tulis dan cap. Sementara itu, Arvidra Batik berkontribusi dalam eksplorasi motif kontemporer yang tetap mempertahankan karakter tradisional. Ekspansi kualitas dan jangkauan pasar nasional diperkuat melalui kerja sama dengan Batik Avigo yang berbasis di sentra batik Laweyan, Solo. Di tangan Yetty Arum dari Purwokerto, motif-motif matematika dalam Batima bertransformasi lebih jauh menjadi produk busana dan kriya yang modis.

”Sinergi antara perguruan tinggi dan pelaku industri kreatif ini memastikan bahwa inovasi tidak berhenti pada tahap desain, tetapi berlanjut hingga produksi, komersialisasi, dan keberlanjutan usaha,” papar Hanna.

Di balik potensi komersialnya, Hanna meyakini kekuatan utama Batima terletak pada fungsinya sebagai media edukasi matematika yang kontekstual. Dengan melihat dan menyentuh motif batik, para siswa tidak lagi hanya menghafal rumus di atas kertas, tetapi dapat mengapresiasi keindahan geometri yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Matematika tidak lagi abstrak dan menakutkan, melainkan konkret dan indah.

Dekan FSM UKSW Wahyu Hari Kristiyanto mengungkapkan, Batima merupakan wujud komitmen fakultas dalam melakukan inovasi yang berdampak langsung untuk kesejahteraan masyarakat luas. ”Batima adalah salah satu karya inovasi sains dan matematika. Karya visualisasi dari indahnya simulasi persamaan matematika yang penuh makna ini mampu membumikan matematika yang umumnya menjadi momok bagi sebagian siswa menjadi daya tarik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara langsung,” kata Wahyu.

Inovasi Batima diharapkan meningkatkan minat pelajar dalam belajar matematika dan sains yang ketersediaannya sangat diperlukan Indonesia ke depan. Meskipun unit usaha spin-off kampus, CV Garisma, sempat dinonaktifkan pada tahun 2025 karena kendala regenerasi pengelola dari kalangan mahasiswa, warisan intelektual dan ekosistem kolaborasi Batima dengan dunia usaha terus berkembang. Karya penelitian FSM UKSW ini setidaknya menjadi bukti nyata bahwa sains dan seni tidak seharusnya berada di kutub yang berseberangan. Di atas selembar kain Batima, rumus-rumus matematika tidak lagi dingin dan kaku.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar