"Enggak ada lagi itu. Sekarang tiap setahun sekali," tuturnya.
Awal tahun 2026 ini pun diwarnai kecemasan. Hujan turun pagi hingga malam, membuatnya selalu waspada. Rasa lelah itu bukan sekadar fisik. "Kalau udah musim hujan begini, hujan di malam hari aja kita udah nggak bisa tidur tenang," keluhnya.
Namun begitu, pilihan lain tampaknya tertutup. Dia harus bertahan. Masalah klasik: hunian murah dan layak di Jakarta nyaris mustahil ditemukan. Akhirnya, berteman dengan banjir di kontrakan Rp 400 ribu sebulan adalah konsekuensi yang harus ditanggung.
"Mau cari yang mahal, duitnya nggak ada," imbuhnya dengan nada pasrah. "Mau banjir kek, apa kek, kita tahan aja. Udah biasa."
Di sisi lain, kondisi lapangan mulai menunjukkan perbaikan. Menurut Sukendar, Kasatgas BPBD Jakarta Selatan, ketinggian air sempat mencapai level yang mengkhawatirkan.
"Tadi malam di Pejaten Timur sempat mencapai 210 cm," jelas Sukendar kepada awak media di lokasi.
"Sekarang sudah turun jadi 120 cm. Meski begitu, bagian wilayah yang lebih rendah masih terendam cukup dalam."
Genangan mungkin perlahan surut. Tapi bagi Ani dan banyak warga lain, ketidakpastian dan kecemasan itu seperti banjir yang tak pernah benar-benar pergi. Mereka menunggu, sambil duduk di teras warung, menatap air yang masih menggenang.
Artikel Terkait
Ayah di Siak Terekam Tendangi Kepala Anak Balita, Motifnya Gagal Minta Uang
Serangan Rusia Hantam Kyiv dan Kharkiv, Korban Jiwa Berjatuhan
ParagonCorp Gelar BST 2026, Cetak Standar Baru Kecantikan Global
Cara Mudah Cek Cuaca BMKG dan Nomor Darurat yang Harus Disimpan