Di teras warung tetangganya, Ani (63) hanya bisa terduduk pasrah. Pandangannya kosong, menatap genangan air yang masih menyelimuti rumah kontrakannya di Pejaten Timur, Jakarta Selatan. Sudah sejak kemarin sore, tempat tinggalnya itu terendam banjir.
Dia mengungsi semalaman di sini, di area yang sedikit lebih tinggi. Tak ada barang berharga yang sempat diselamatkan. Hanya diri sendiri.
"Dikasih tahu dari BPBD sih, air bakal naik puncaknya pas maghrib," ujar Ani, ditemui Sabtu (21/1/2026).
"Dan bener aja, jam enam tepat air datang. Sampai sekarang enggak turun-turun juga."
Suaranya terdengar lelah. Akibatnya, ya begini. Belum mandi, belum pulang. Airnya malah terasa makin naik saja.
Kala banjir datang dengan cepat, naluri menyelamatkan nyawa lebih berbicara. Semua barang ditinggalkan begitu saja di rumah petak sewaannya. TV jungkir balik. Rice cooker terendam. Tapi apa daya?
"Udah, dibiarin aja," katanya, menghela.
"Lihat air tinggi banget, ya panik. Gembok dikunci, tinggal pergi. Nggak mikirin barang lagi. Mikirin diri sendiri aja udah syukur."
Sudah 14 tahun Ani hidup di tepi Kali Ciliwung ini. Banjir bukanlah hal asing. Namun belakangan, siklusnya berubah. Menurutnya, banjir lima tahunan itu mitos. Kini, banjir datang hampir tiap tahun, bahkan lebih sering. Tiba-tiba saja saat hujan mengguyur tak henti.
"Enggak ada lagi itu. Sekarang tiap setahun sekali," tuturnya.
Awal tahun 2026 ini pun diwarnai kecemasan. Hujan turun pagi hingga malam, membuatnya selalu waspada. Rasa lelah itu bukan sekadar fisik. "Kalau udah musim hujan begini, hujan di malam hari aja kita udah nggak bisa tidur tenang," keluhnya.
Namun begitu, pilihan lain tampaknya tertutup. Dia harus bertahan. Masalah klasik: hunian murah dan layak di Jakarta nyaris mustahil ditemukan. Akhirnya, berteman dengan banjir di kontrakan Rp 400 ribu sebulan adalah konsekuensi yang harus ditanggung.
"Mau cari yang mahal, duitnya nggak ada," imbuhnya dengan nada pasrah. "Mau banjir kek, apa kek, kita tahan aja. Udah biasa."
Di sisi lain, kondisi lapangan mulai menunjukkan perbaikan. Menurut Sukendar, Kasatgas BPBD Jakarta Selatan, ketinggian air sempat mencapai level yang mengkhawatirkan.
"Tadi malam di Pejaten Timur sempat mencapai 210 cm," jelas Sukendar kepada awak media di lokasi.
"Sekarang sudah turun jadi 120 cm. Meski begitu, bagian wilayah yang lebih rendah masih terendam cukup dalam."
Genangan mungkin perlahan surut. Tapi bagi Ani dan banyak warga lain, ketidakpastian dan kecemasan itu seperti banjir yang tak pernah benar-benar pergi. Mereka menunggu, sambil duduk di teras warung, menatap air yang masih menggenang.
Artikel Terkait
MPR: Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar Bukan Sekadar Kompetisi, tapi Ruang Tanamkan Nilai Kebangsaan
Kemen PPPA Latih Relawan Laskar Tanna Jadi Garda Depan Penanganan Kekerasan Perempuan dan Anak
Mertua dan Menantu Jadi Kurir Sabu, Selundupkan Narkoba ke Lapas Kedungpane
Dr. Oky Pratama Jalani Pemeriksaan di Polda Jabar Terkait Unggahan Mafia Skincare Richard Lee, Bantah Isu Buzzer