"Sebagian kursi itu memang milik SMP 33, jadi dibawa kembali. Ya, kondisinya jadi kurang. Tapi ini sudah atas kesepakatan dengan orang tua, mereka membuat pernyataan tertulis," lanjutnya mencoba memberi konteks.
Angkanya cukup mencengangkan. Dari total 33 kelas yang ada, sebanyak 17 ruangan mengalami kekurangan furnitur. Bayangkan, sekitar 612 siswa masih harus mengandalkan meja lipat pribadi mereka setiap hari.
Nur menambahkan penjelasan yang terdengar seperti sebuah dilema logistik.
"Kalau kita ada 33 kelas, yang terisi penuh baru 16. Sekalipun kita coba bagi dua sesi pembelajaran, ya tetap nggak bakal cukup. Masih kurang," jelasnya.
Jadi, di tengah gedung yang direnovasi dengan dana miliaran, realitas di lapangan justru terasa ironis. Para siswa masih berjuang dengan meja lipat mereka, sambil menunggu janji kelengkapan yang seharusnya sudah ada sejak awal.
Artikel Terkait
Dari Ibu Kota Politik Menuju Polis: Tantangan Sejati IKN
Jakarta Kehilangan 800 Situ, Pemerintah Pacu Revitalisasi dan Waduk Baru
Eropa Bersiap dengan Senjata Perdagangan Usai Ancaman Tarif Trump Mereda
BMKG Klaim Berhasil Tekan Hujan Jabodetabek Hampir 40% Lewat Penyemaian Awan