Hujan badai yang mengguyur kawasan lereng Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulsel, membuat upaya evakuasi dua jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 terhambat. Tim SAR masih berjuang di medan yang sulit, berusaha membawa pulang pramugari dan korban lainnya.
Danrem 142/Toddopuli, Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan, mengonfirmasi situasi ini dari Posko Operasi SAR gabungan di Desa Tompobulu. "Korban masih di lereng," ujarnya, mengacu pada jenazah pramugari yang baru ditemukan.
Menurut sejumlah saksi di lapangan, cuaca benar-benar menjadi lawan terberat. Jarak pandang yang terbatas dan jalur yang licin memperlambat setiap langkah.
Proses untuk jenazah pertama yang ditemukan dua hari lalu pun belum tuntas. Meski tak merinci, Andre menyebut upaya itu masih terus dilakukan. "Yang pertama kita usahakan. Ini kita sedang cari rute evakuasi yang tepat," tuturnya.
Harapannya sederhana: segera membawa kedua jenazah itu turun. Namun begitu, alam seolah tak bersahabat. "Karena situasi begini kan gelap, nanti kita usahakan di desa yang paling dekat," imbuh Andre, menggambarkan rencana darurat yang disiapkan.
Hingga saat ini, dari total sepuluh orang yang menjadi korban jatuhnya pesawat, dua jasad telah berhasil ditemukan. Keduanya berada di lereng yang sama, dengan kedalaman dan kondisi medan yang menantang. Evakuasi membutuhkan kesabaran dan strategi, menunggu celah cuaca yang lebih baik.
Artikel Terkait
Tancredo Neves Meninggal Sebelum Dilantik, Brasil Kehilangan Presiden Sipil Pertama Pasca-Rezim Militer
Omzet Perajin Tempe di Kramat Jati Naik Berkat Program Makan Bergizi Gratis
Israel Larang Warga Lebanon Selatan Pulang, Serangan ke Hizbullah Berlanjut Meski Gencatan Senjata Diperpanjang
Wamendagri Buka Apresiasi Kepala Daerah Berprestasi 2026 di Palembang, Dorong Kinerja Lewat Insentif Fiskal