Empat Tahun InJourney: Dari Transformasi ke Kontribusi Nyata bagi Ekonomi dan Lingkungan

- Selasa, 20 Januari 2026 | 08:30 WIB
Empat Tahun InJourney: Dari Transformasi ke Kontribusi Nyata bagi Ekonomi dan Lingkungan

Menurut Iwan, pariwisata yang hebat harus tumbuh seiring komitmen kuat terhadap pelestarian alam dan budaya. Keberlanjutan, baginya, bukan pilihan. Itu adalah fondasi utama.

Dua Pilar Utama: Lingkungan dan Sosial-Ekonomi

Komitmen terhadap pariwisata berkelanjutan ini berangkat dari keyakinan sederhana: keberhasilan bisnis jangka panjang hanya mungkin jika pertumbuhan ekonomi sejalan dengan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Visinya adalah 'Sustainable Tourism Economy and Creating Impact for Communities'.

Herdy Harman, Direktur SDM dan Digital InJourney, menekankan hal serupa. Ia bilang, keberlanjutan dan tanggung jawab adalah fondasi utama transformasi pariwisata nasional.

"Membangun infrastruktur adalah satu hal, tetapi membangun manusia adalah hal lain yang sama pentingnya," ujar Herdy.

"Program yang baik harus diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia agar transformasi dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak jangka panjang," tegasnya.

Kerangka kerja mereka bertumpu pada dua pilar. Pertama, lingkungan. Di sini fokusnya pada pengelolaan air dan limbah yang bertanggung jawab, strategi iklim, serta perlindungan keanekaragaman hayati. Tujuannya jelas: meminimalkan dampak dari aktivitas aviasi dan pariwisata.

Pilar kedua adalah sosial-ekonomi. Prioritasnya adalah peningkatan kualitas hidup masyarakat. Ini diwujudkan lewat program kesehatan, pengentasan kemiskinan, perluasan akses pendidikan, dan penguatan kemitraan dengan UMKM lokal. Intinya, manfaat ekonomi dari pariwisata harus dirasakan secara merata oleh masyarakat sekitar.

Komitmen lingkungan itu diterjemahkan dalam angka nyata: target penurunan emisi sebesar 4.000 tonCO₂e. Langkah ini adalah bagian dari dukungan terhadap target Net Zero Emission pemerintah.

Caranya? Mereka punya program 'green initiative'. Beberapa realisasinya cukup konkret. Di sembilan bandara utama, misalnya, pemanfaatan panel surya (PLTS) telah menghasilkan 10.760 MWh energi terbarukan per tahun. Itu setara dengan penyerapan karbon oleh 272 ribu pohon.

Mereka juga gencar melakukan elektrifikasi. Saat ini, sudah 716 unit kendaraan dan peralatan listrik seperti ground support equipment, buggy car, dan mini bus beroperasi di berbagai destinasi. Angka ini terus bertambah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Pengelolaan sumber daya juga tak kalah serius. Pendekatan ekonomi sirkular diterapkan. Hasilnya, pengelolaan limbah padat mencapai 7.000 m³, sementara pemanfaatan air daur ulang menyentuh angka 1.728.304 m³. Mereka bahkan menjalankan program penanaman 40.000 pohon mangrove di seluruh wilayah operasional untuk memperkuat ekosistem pesisir.

Di Nusa Dua, Bali, ada terobosan menarik. Kawasan yang dikelola ITDC ini mengoperasikan fasilitas Seawater Reverse Osmosis (SWRO). Fasilitas ini menghasilkan 331.382 m³ air bersih dari air laut, yang secara signifikan mengurangi ketergantungan pada air tanah.

Pencapaiannya pun istimewa. ITDC menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang mendapat izin resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI untuk mengolah air laut menjadi air layak konsumsi dengan teknologi modern. Sebuah langkah kecil yang punya dampak besar untuk ketahanan air di tengah ancaman perubahan iklim.


Halaman:

Komentar