Di titik terendah itu, sang ayah muncul sebagai penyemangat. Dialah yang membujuk dan menguatkan hati Ela untuk tetap maju. Perlahan, niat itu kembali tumbuh.
"Akhirnya Bapak saya mendukung, nguatin semuanya, termasuk tukang masak akhirnya bisa, alhamdulillah surut," kata Ela.
Gendongan Penuh Makna
Dan resepsi pun digelar. Meski lokasi masih basah dan becek, semangat mereka tak lagi surut. Adegan paling memorable? Saat Muhadi dengan penuh perhatian menggendong istrinya menuju panggung pelaminan. Agar gaun pengantin tak basah, agar langkah pertama mereka sebagai suami istri tetap istimewa.
Lambat laun, keresahan Ela pun hilang. Menjelang siang, air mulai surut. Yang lebih menghangatkan hati, tamu undangan justru berdatangan satu per satu.
"Terharu, gembira. Semua pada datang," pungkas Ela, sumringah.
"Dukungan semua keluarga, saudara saya dari Pandeglang, yang jauh-jauh pada datang. Alhamdulillah bersyukur sama yang kuasa. Sama keluarga saya, sama Bapak saya bersyukur."
Di antara lumpur dan genangan, sebuah perayaan cinta berhasil mereka wujudkan. Lebih dari sekadar pesta, ini tentang keteguhan hati dan dukungan keluarga yang tak lekang oleh banjir.
Artikel Terkait
Hening di Jatimelati: Keluarga dan Sahabat Berduka untuk Ferry Irawan, Korban Pesawat Hilang di Pangkep
Prabowo Sambut Hangat Diaspora di London, Sapa Mahasiswa di Tengah Kunjungan Kenegaraan
Korban Kedua Kecelakaan Pesawat di Bulusaraung Ditemukan, Berjenis Kelamin Perempuan
74 Napi Baru di Cipinang Mulai Masa Hukuman dengan Sekolah Adaptasi