Operasi pencarian dan evakuasi untuk pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung akan dilanjutkan Senin pagi. Cuaca, sekali lagi, menjadi penentu utama. Menurut rencana, tim akan mencoba dua jalur: udara dan darat, tergantung bagaimana kondisi alam di kawasan perbatasan Kabupaten Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan itu nanti.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii menjelaskan detailnya. Dari udara, helikopter Caracal akan berusaha mendarat di puncak. Jika itu sulit, mereka punya cadangan metode hoist, alias menurunkan dan menarik personel serta korban langsung dari helikopter.
"Tapi kalau cuaca lagi tidak bersahabat, ya kita turun ke opsi darat," ujar Syafii di Kantor Basarnas Makassar, Minggu kemarin.
Evakuasi darat akan digarap oleh tim SAR gabungan yang sudah disiagakan.
Nah, yang mau dievakuasi bukan cuma jenazah para korban yang sudah ditemukan. Menurut Syafii, bagian-bagian tertentu dari badan pesawat juga akan diangkat. Ini penting buat penyelidikan KNKT kelak.
"Evakuasi dilakukan tidak hanya terhadap penumpang, tetapi juga terhadap 'body part' pesawat yang diperlukan untuk kepentingan investigasi," tambahnya.
Sayangnya, sampai hari Minggu kemarin, proses evakuasi belum bisa jalan maksimal. Medannya ekstrem, ditambah cuaca buruk yang terus menggulung puncak gunung.
Muhammad Arif Anwar, Kepala Basarnas Makassar yang jadi koordinator misi, bilang tim terpaksa bertahan di lokasi. Mereka mendirikan tenda di dekat tempat korban ditemukan, sambil terus waspada.
Artikel Terkait
Kobaran Api di Chili Selatan Tewaskan 15 Jiwa, Puluhan Ribu Warga Mengungsi
Pajero Ugal-ugalan Tabrak Pemotor, Berakhir di Pagar Mapolda Jambi
Pezeshkian Peringatkan AS: Serang Pemimpin Tertinggi Iran Berarti Perang Total
Proyek Lomba Santri Picu Kebakaran Gudang Rp 200 Juta di Pesantren Bogor