"Pengerahan pasukan keamanan yang meluas oleh rezim dilakukan tidak berkelanjutan, yang memungkinkan aksi protes dapat berlanjut,"
begitu bunyi pernyataan resmi mereka, seperti dikutip AFP.
Di sisi lain, laporan dari Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia jauh lebih suram. Mereka menyatakan sedikitnya 3.428 demonstran tewas akibat tindakan keras aparat. Tapi, angka itu mungkin baru secuil dari kenyataan sebenarnya.
IHR sendiri memperingatkan, jumlah korban tewas bisa beberapa kali lipat lebih tinggi. Bahkan, ada perkiraan lain yang menyebutkan korban mencapai lebih dari 5.000 jiwa bahkan mungkin melonjak hingga 20.000. Pemadaman internet yang berkepanjangan, tentu saja, membuat verifikasi independen nyaris mustahil dilakukan. Semuanya jadi gelap.
Artikel Terkait
Pegawai Toko Rempah di Cisarua Tewaskan Majikan Pasutri Pakistan
Prabowo Pimpin Silaturahmi Langka, Hadirkan SBY dan Jokowi di Istana
Pembalap MotoGP Mir dan Marini Menyelami Budaya Bali di Sela Jadwal Balap
OJK Catat Kredit Perbankan Tumbuh 9,96% di Awal 2026, Kredit Investasi Melonjak 22,38%