"Pengerahan pasukan keamanan yang meluas oleh rezim dilakukan tidak berkelanjutan, yang memungkinkan aksi protes dapat berlanjut,"
begitu bunyi pernyataan resmi mereka, seperti dikutip AFP.
Di sisi lain, laporan dari Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia jauh lebih suram. Mereka menyatakan sedikitnya 3.428 demonstran tewas akibat tindakan keras aparat. Tapi, angka itu mungkin baru secuil dari kenyataan sebenarnya.
IHR sendiri memperingatkan, jumlah korban tewas bisa beberapa kali lipat lebih tinggi. Bahkan, ada perkiraan lain yang menyebutkan korban mencapai lebih dari 5.000 jiwa bahkan mungkin melonjak hingga 20.000. Pemadaman internet yang berkepanjangan, tentu saja, membuat verifikasi independen nyaris mustahil dilakukan. Semuanya jadi gelap.
Artikel Terkait
Polisi Siaga Penuh di Titik Rawan Macet Pekanbaru Selama Libur Panjang
Delegasi AS ke Denmark: Kunjungan Damai Usai Polemik Pembelian Greenland
Titik Api di Lereng Gunung Maros Jadi Fokus Pencarian Pesawat IAT yang Hilang Kontak
Damai di Parung: Kasus Pengeroyokan di Kafe Karaoke Berakhir dengan Restorative Justice