Iran kembali menjadi sorotan. Menurut laporan media setempat yang dikutip Al Arabiya pada Jumat (16/1/2026), otoritas negara itu telah menahan sekitar 3.000 orang. Mereka dituding berafiliasi dengan kelompok teroris dan terlibat dalam aksi protes yang marak terjadi.
Gelombang demonstrasi antipemerintah memang sedang melanda Iran dengan skala yang luar biasa. Banyak pengamat dan saksi mata berpendapat, situasi kali ini benar-benar berbeda. Mereka menyebut gelombang protes ini adalah yang terbesar dalam 47 tahun sejarah Republik Islam. Kerusuhan pun tak terhindarkan, dan kabarnya ribuan orang telah kehilangan nyawa.
Di tengah keriuhan di jalanan berbagai kota Iran, ancaman datang dari seberang lautan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump tak tinggal diam. Dia mengancam akan "menyerang dengan sangat keras ke titik terlemah" jika aparat Iran bertindak represif terhadap para demonstran.
"Kami siap membantu," tambah Trump, tanpa merinci bentuk bantuan tersebut.
Artikel Terkait
Gubernur Jateng Tinjau Gerakan Pangan Murah di Grobogan Jelang Lebaran 2026
Menko Pangan Tegaskan Impor Beras AS 1.000 Ton Hanya untuk Kebutuhan Khusus
Dua Pekerja Gondola Terjebak Badai di Surabaya, Satu Tewas
Wakapolda Riau Serukan Sinergi Seluruh Elemen Jaga Keamanan Ramadan