Genangan air masih menutupi permukiman di Kecamatan Patia dan Pagelaran, Pandeglang. Sudah hampir seminggu, tapi banjir tak kunjung surut. Kerusakan terjadi di mana-mana, merusak rumah dan menghancurkan usaha warga yang susah payah dibangun.
Di tengah situasi itu, ada Asniah. Perempuan 65 tahun ini tinggal di Kampung Eretan, Desa Surianen, Patia. Dinding rumahnya dari bambu, warung kecilnya juga tak berkutik diterjang air. Tapi, yang paling membuatnya terpukul adalah hilangnya uang tabungan. Uang sebesar Rp 1,7 juta yang ia simpan untuk modal usaha, hanyut begitu saja.
"Uang itu buat modal jualan gorengan," ujarnya, Jumat lalu.
Sehari-hari, Asniah berjualan gorengan keliling kampung. Hidupnya memang cuma bergantung pada itu. Dia menggoreng di warung, lalu berkeliling menjajakannya. Saat banjir datang, kebetulan ia sedang di luar. Tak sempat menyelamatkan apa pun.
"Bekerja sebagai penjual gorengan, hidup sendirian. Air datang ibu lagi di luar. Uang ketinggalan di warung, hanyut kebawa Rp 1,7 juta. Ibu mah cuma begitu doang pekerjaannya," cerita Asniah dengan suara lirih.
Sebenarnya, ada juga sumber penghasilan lain. Kadang dia bekerja ke sawah, menanam atau memanen padi kalau ada yang memanggil. Sayangnya, banjir yang berkepanjangan ini juga merusak lahan pertanian. Sawah tak bisa ditanami, hasilnya pun tak ada.
"Kalau ke sawah, padinya gapuk. Nggak ada isinya," keluhnya.
Keadaan Asniah semakin terasa berat karena ia hidup sebatang kara. Suaminya telah meninggal enam tahun silam. Anak-anaknya sudah berkeluarga dan tinggal terpisah. Ia harus mengandalkan dirinya sendiri untuk bertahan.
"Hidup sendiri, nggak bersuami. Kalau ada suami mendingan ada yang bantu. Ibu mah hanya bisa nangis doang semenjak uang ibu palid," tuturnya, mengaku kerap menangis sejak musibah itu.
Hingga kini, bantuan untuk kebutuhan sehari-hari pun belum ia terima. Meski begitu, di tengah keprihatinan yang mendalam, Asniah masih mencoba bersyukur. Syukur yang sederhana: nyawanya selamat.
"Ini bukan rekayasa, ibu bukan minta dikasih. Tapi yang penting ibu selamat," katanya.
Harapannya sekarang sederhana. Ia berharap ada hati yang tergerak untuk membantunya bangkit. Dan impian yang mungkin terdengar biasa bagi banyak orang, tapi sangat berarti baginya: memiliki rumah yang layak untuk ditinggali.
"Mudah-mudahan hati dermawan mau membantu ibu. Ibu juga pengen punya rumah layak seperti orang lain," pungkas Asniah.
Artikel Terkait
Lumbung Coin Kembangkan Rukos Berbasis Pelatihan Digital di Jawa Timur
Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia Akibat Serangan Jantung
Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Kembali Jadi Embarkasi Haji 2026
Inter Milan Hajar Cagliari 3-0, Puncak Klasemen Serie A Makin Kokoh