Sebuah kontainer berisi 750 lembar "coco shade" anyaman sabut kelapa siap berlayar dari Cirebon menuju Spanyol. Yang istimewa, produk ekspor ini dibuat oleh tangan-tangan warga binaan pemasyarakatan di Lapas Kelas I setempat. Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, sendiri yang melepas keberangkatan produk olahan kelapa itu.
“Sementara ekspornya ke Amerika, Spanyol, Korea Selatan. Sudah ada delapan negara kalau nggak salah,” ujar Agus kepada awak media, Kamis lalu.
Menurutnya, karya dari 18 narapidana ini menunjukkan bahwa program pelatihan di balik tembok bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai di pasar global. Prosesnya tak lepas dari pendampingan petugas dan mitra swasta yang turun langsung.
Agus berharap gerakan serupa bisa terus dikembangkan, tak hanya di Cirebon. Dia menyinggung Nusakambangan, yang citranya ingin dia ubah. Bukan lagi sekadar pulau penjara, melainkan pusat ketahanan pangan.
Di sana, lahan-lahan tidur kini dihidupkan. Ditjenpas menggarap sawah padi, jagung, hingga kebun kelapa. Ada pula peternakan ayam, domba, dan sapi. Kolam-kolam ikan nila, sidat, dan udang vaname juga mulai beroperasi. Bahkan, limbah batu bara atau FABA diolah menjadi paving block dan batako di pabrik kecil milik lapas.
“Jadi mudah-mudahan nanti kita bisa terus kembangkan. Termasuk yang di Nusakambangan, mudah-mudahan kita bisa ekspor sidat dan udang vaname,” harapnya.
“Banyak program pembinaan untuk warga binaan, termasuk pembuatan batako, dan lain-lain,” sambung Agus.
Kembali ke "coco shade" Cirebon, Menteri Agus menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar produksi. Para napi yang terlibat dapat ilmu baru dan keterampilan nyata. Mereka juga mendapat premi dari setiap produk yang laku, sebuah bentuk upah yang berarti.
“Dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, atau jadi tabungan setelah mereka bebas nanti,” jelasnya.
Narasi besarnya jelas: lapas tak lagi hanya tempat mengurung, tapi juga wadah memulihkan. Dengan tangan mereka sendiri, para WBP membangun kembali kepercayaan diri sambil menyulam anyaman sabut kelapa yang sampai ke benua Eropa.
Artikel Terkait
Nadiem Makarim Ajukan Pleidoi, Sebut Tak Ada Kerugian Negara dalam Pengadaan Chromebook
KPK Bantah Klaim Mantan Dirjen Haji Hilman Latief yang Tak Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji
Pemerintah Pastikan Pengawasan dan Evaluasi Berkala Terhadap Badan Gizi Nasional
Dasco: Pergantian Kepala BGN karena Evaluasi Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis