Di tengah hutan Myanmar, junta militer baru saja menggerebek tiga pabrik narkoba raksasa. Tempat-tempat itu bukan cuma laboratorium biasa, tapi kompleks produksi yang konon bertanggung jawab atas lebih dari sepertiga metamfetamin yang berhasil disita di negara itu sepanjang tahun lalu.
Negara ini memang sudah lama jadi sarang perdagangan gelap narkoba. Tapi situasinya makin runyam setelah kudeta 2021 memicu perang saudara. Menurut para analis, konflik justru mendongkrak produksi dan perdagangan barang haram itu.
Di sisi lain, kendali atas wilayah Myanmar kini terpecah-pecah. Berbagai faksi pemberontak menguasai daerahnya masing-masing. Dan semua pihak dituding memanfaatkan uang dari bisnis narkotika ini untuk mengisi kas perang sekaligus mendanai pemerintahan mereka.
Wartawan AFP sempat diajak melihat langsung bekas pabrik yang masih berasap itu, di selatan kota Hsipaw, Negara Bagian Shan. Dua lokasi yang dikunjungi itu hancur berantakan. Ukurannya luar biasa besar, mirip permukiman kecil lengkap dengan jalan, rumah, serta infrastruktur listrik dan air.
Di dalamnya, masker gas dan sarung tangan karet berserakan. Mesin produksi pipa masih bergemuruh, seolah baru berhenti bekerja. Tong-tong besar berisi metamfetamin kristal teronggok, siap digiling dan dicetak jadi pil.
Juru bicara junta, Zaw Min Tun, tak menyembunyikan kebanggaannya.
"Ini operasi anti-narkoba terbesar dalam sejarah kami, baik dari sisi penyitaan maupun penghancurannya," katanya kepada para wartawan di Pyin Oo Lwin.
Polisi punya keyakinan sendiri. Mereka menduga tiga fasilitas terkait ini memproduksi lebih dari sepertiga dari total 37 ton metamfetamin yang disita tahun 2025. Kesimpulan itu didapat dari informasi informan, plus perbandingan kemasan teh dan kopi yang biasa dipakai penyelundup untuk menyembunyikan narkoba.
Memang, situasi militer di Shan sempat berubah cepat. Serangan gabungan oposisi akhir 2023 membuat junta kehilangan banyak wilayah. Tapi belakangan, gencatan senjata yang dimediasi China berhasil meredakan dua kelompok pemberontak paling kuat.
Nah, dalam kondisi pertempuran yang mulai mereda itu, militer Myanmar mengklaim mereka menemukan laboratorium metamfetamin ini saat berusaha merebut kembali wilayah-wilayah yang sempat lepas.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 3.0 Guncang Tapanuli Selatan
DPR Minta Kejelasan Pemerintah soal Nasib RUU Inisiatif, Termasuk Perlindungan PRT
Kades dan Kontraktor Klaten Ditahan Terkait Dugaan Korupsi Dana Renovasi Masjid Rp 203 Miliar
Iran Tegaskan Hak Nuklirnya Tak Bisa Ditawar, Desak AS Tunjukkan Itikad Baik