Di tengah hutan Myanmar, junta militer baru saja menggerebek tiga pabrik narkoba raksasa. Tempat-tempat itu bukan cuma laboratorium biasa, tapi kompleks produksi yang konon bertanggung jawab atas lebih dari sepertiga metamfetamin yang berhasil disita di negara itu sepanjang tahun lalu.
Negara ini memang sudah lama jadi sarang perdagangan gelap narkoba. Tapi situasinya makin runyam setelah kudeta 2021 memicu perang saudara. Menurut para analis, konflik justru mendongkrak produksi dan perdagangan barang haram itu.
Di sisi lain, kendali atas wilayah Myanmar kini terpecah-pecah. Berbagai faksi pemberontak menguasai daerahnya masing-masing. Dan semua pihak dituding memanfaatkan uang dari bisnis narkotika ini untuk mengisi kas perang sekaligus mendanai pemerintahan mereka.
Wartawan AFP sempat diajak melihat langsung bekas pabrik yang masih berasap itu, di selatan kota Hsipaw, Negara Bagian Shan. Dua lokasi yang dikunjungi itu hancur berantakan. Ukurannya luar biasa besar, mirip permukiman kecil lengkap dengan jalan, rumah, serta infrastruktur listrik dan air.
Di dalamnya, masker gas dan sarung tangan karet berserakan. Mesin produksi pipa masih bergemuruh, seolah baru berhenti bekerja. Tong-tong besar berisi metamfetamin kristal teronggok, siap digiling dan dicetak jadi pil.
Artikel Terkait
Denmark Perkuat Militer di Greenland, Antisipasi Ambisi Trump di Arktik
Ratusan Pil Ilegal Digagalkan, Pelaku 23 Tahun Diamankan di Batuceper
Greenland Tegaskan Setia ke Denmark, Tolak Isu Aneksasi AS
Satgas PKH Kuasai Jutaan Hektar Lahan, Denda Pelaku Sawit-Tambang Tembus Rp 5,2 Triliun