Menteri Yandri Susanto Gandeng Raffi Ahmad hingga Kemendag untuk Pacu Desa

- Selasa, 13 Januari 2026 | 17:20 WIB
Menteri Yandri Susanto Gandeng Raffi Ahmad hingga Kemendag untuk Pacu Desa
Artikel Gaya Manusia

Membangun desa tak bisa jalan sendiri. Itulah prinsip yang dipegang Menteri Desa PDT Yandri Susanto. Untuk memajukan desa-desa di Indonesia, dia mengaku telah menggandeng banyak pihak. Salah satu nama yang cukup mengejutkan adalah Raffi Ahmad, yang dilibatkan dalam program Pemuda Pelopor Desa.

Menurut Yandri, kolaborasi dengan kementerian lain adalah kunci. Ambil contoh program desa ekspor. "Itu kan program Kementerian Desa," ujarnya. Tapi urusan ekspor ternyata lebih kompleks.

"Perlu izin ekspor, standar barang, dan tentu saja, negara tujuannya. Nah, di sinilah peran Kemendag masuk. Mereka yang punya tugas dan fungsi menyambungkan dengan duta besar negara tertentu," jelas Yandri dalam perbincangan dengan media, Selasa (13/1/2026).

Dia merasa perkembangan desa saat ini cukup menggembirakan. Sebuah bukti nyata? Untuk pertama kalinya, desa-desa ikut serta dalam pameran internasional EXPO BSD.

"Alhamdulillah, baru pertama kali ini sejak Republik Indonesia berdiri, desa-desa bisa tampil di expo yang pesertanya mencapai 189 negara itu," katanya dengan nada bangga. Tak cuma itu, untuk pengembangan desa wisata, koordinasi juga dilakukan dengan Kementerian Pariwisata dan Utusan Khusus Presiden di bidang tersebut.

Lalu, bagaimana dengan Raffi Ahmad?

Yandri menjelaskan, figur publik itu digandeng karena posisinya sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni. "Untuk pemuda pelopor desa, kita kerja sama dengan Raffi Ahmad. Beliau sudah datang. Intinya, semua saya koordinasikan," ucapnya.

Kolaborasinya ternyata lebih luas lagi. Di sisi lain, ada program Desa Bebas Narkoba yang digarap bersama BNN. Kemudian, untuk menciptakan Desa Ramah Ibu dan Anak, dia pun bekerja sama dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

"Semuanya kita padukan," tegas Yandri. Menurutnya, pendekatan kolaboratif ini membuat beban terasa lebih ringan. Pengawasannya pun jadi lebih komprehensif.

"Di desa, kalau cuma pidato tanpa pemberdayaan dan pendampingan nyata, ya programnya bisa menguap begitu saja. Tapi kalau kita dampingi dengan baik, insyaallah akan sukses," pungkasnya menutup pembicaraan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar