BMKG Ungkap Puncak Musim Hujan 2026: Jawa Lebih Cepat, Sumatera Mundur

- Senin, 12 Januari 2026 | 15:30 WIB
BMKG Ungkap Puncak Musim Hujan 2026: Jawa Lebih Cepat, Sumatera Mundur

Hujan deras mengguyur beberapa wilayah di Indonesia, tak jarang disertai angin yang cukup kencang. Menanggapi fenomena ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan terkait kondisi musim penghujan yang sedang berlangsung.

Menurut Ida Pramuwardani, Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, puncak musim hujan di tanah air ternyata tidak serentak. Tiap wilayah punya waktunya sendiri-sendiri. Meski begitu, secara garis besar, puncaknya diperkirakan bakal terjadi di awal tahun 2026.

"Puncak musim hujan secara umum tetap diprediksi akan terjadi pada periode Januari-Februari 2026. Di Jawa, Sulawesi, dan Maluku-Papua, puncak musim hujan cenderung lebih awal dibandingkan prediksi sebelumnya,"

kata Ida, Senin (12/1/2026).

Namun begitu, ada juga daerah yang justru mengalami kemunduran. BMKG menyarankan masyarakat untuk rajin memantau prakiraan cuaca terbaru lewat situs atau aplikasi resmi mereka.

"Sebaliknya, di Sumatera dan Bali, puncak musim bergeser menjadi lebih lambat. Sebagian besar wilayah yang dimutakhirkan mengalami puncak musim hujan yang sama hingga maju dengan normalnya kecuali di Sumatera (lebih mundur dengan normalnya),"

tambahnya.

Mengapa Akhir-akhir Ini Hujan Lebat?

Lalu, bagaimana dengan hujan lebat yang terjadi belakangan ini? Ida menjelaskan, fenomena ini cukup luas, melanda Jabodetabek hingga merambah ke berbagai daerah lain di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara.

"Hujan lebat hingga sangat lebat mengguyur wilayah Jabodetabek dan meluas ke berbagai daerah lain di Indonesia, meliputi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Nusa Tenggara Timur (NTT),"

ungkap Ida.

Data BMKG mencatat curah hujan yang cukup ekstrem. Di Jawa Barat angkanya mencapai 129 mm per hari, disusul NTT 126 mm, dan Bali 120 mm. Tentu saja, hujan dengan intensitas seperti ini tidak terjadi begitu saja, melainkan dipicu oleh sejumlah faktor cuaca yang sedang aktif.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar