Iran Bergejolak: Protes Meluas, Tembakan dan Tudingan Asing Mewarnai Ketegangan

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:50 WIB
Iran Bergejolak: Protes Meluas, Tembakan dan Tudingan Asing Mewarnai Ketegangan

Suasana di Iran masih tegang. Aksi protes yang sudah berlangsung dua minggu lebih tak kunjung reda, malah makin meluas ke berbagai wilayah. Awalnya, unjuk rasa ini cuma menyoal harga-harga yang melambung tinggi. Tapi sekarang, tuntutannya sudah berubah jadi politis para demonstran terang-terangan menuntut perubahan rezim.

Menurut sejumlah saksi, situasi malam kemarin kembali memanas. Garda Revolusi Iran (IRGC) dikerahkan ke sejumlah titik. Seorang saksi dari Iran barat, yang enggan disebut namanya karena alasan keamanan, bercerita lewat telepon bahwa pasukan IRGC sampai melepaskan tembakan di daerah tempatnya berada.

Di sisi lain, media pemerintah melaporkan sebuah gedung balai kota di Karaj, tak jauh dari Teheran, dibakar. Mereka dengan cepat menyalahkan "para perusuh" atas insiden itu. Siaran televisi nasional juga menayangkan rekaman pemakaman sejumlah anggota pasukan keamanan. Mereka disebut gugur dalam kerusuhan di Shiraz, Qom, dan Hamedan.

Menanggapi gejolak ini, IRGC baru-baru ini mengeluarkan pernyataan keras. Mereka menegaskan bahwa menjaga keamanan adalah "garis merah" yang tak boleh dilanggar, dan militer berjanji bakal melindungi aset-aset publik. Dalam siaran televisi pemerintah, IRGC bahkan menuduh ada kelompok teroris yang menargetkan pangkalan militer dan markas penegak hukum dalam dua malam terakhir. Serangan itu, klaim mereka, menewaskan sejumlah warga sipil dan personel keamanan.

Gelombang protes ini rupanya menarik perhatian dunia, khususnya Amerika Serikat. Presiden Donald Trump pada Jumat (9/1) lalu mengeluarkan peringatan baru untuk para pemimpin Iran. Esok harinya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio ikut bersuara.

"Amerika Serikat mendukung rakyat Iran yang berani."

Otoritas Iran sendiri tak tinggal diam. Mereka kerap menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik "kerusuhan" ini. Sementara itu, laporan dari berbagai kelompok HAM menyebut puluhan demonstran telah kehilangan nyawa dalam aksi yang berujung ricuh ini. Situasinya memang rumit, dan akhir dari semua ini masih belum jelas.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar