Kondisi perlengkapan petugas pemadam kebakaran di Kabupaten Bogor masih jauh dari kata ideal. Hal ini diakui sendiri oleh Kepala Dinas Damkar setempat, Yudi Santosa, terutama untuk peralatan di sektor penyelamatan.
Yudi Santosa menjelaskan situasi yang ada dengan cukup gamblang. Menurutnya, meski peralatan yang ada sebenarnya sudah cukup, namun tetap saja belum mencapai standar ideal yang diharapkan.
"Begini, kita sebetulnya untuk penyelamatan itu belum ideal. Gitu ya, dari sisi kalau dari perlengkapan sebetulnya sudah cukup cuma belum ideal,"
Ungkapan itu disampaikannya kepada awak media di kantornya, Jumat lalu. Persoalannya ternyata cukup kompleks dan berlapis.
Dia membeberkan, wilayah Kabupaten Bogor yang luasnya mencakup 40 kecamatan ini hanya dibagi dalam 11 sektor penanganan. Nah, dalam setiap sektor itu, idealnya satu pos punya satu unit kendaraan khusus untuk rescue atau penyelamatan. Kenyataannya? Jauh dari itu.
"Kita ada 11 sektor 1 pos untuk 40 kecamatan. Hari ini kendaraan unit rescue itu baru 5. Idealnya ya nambah sebetulnya, tambah 6 lagi karena di unit rescue itu sudah termasuk,"
Artinya, mereka masih kekurangan enam unit kendaraan lagi agar operasional bisa berjalan optimal. Cukup mengkhawatirkan, bukan?
Masalah lain muncul saat menghadapi Kejadian Membahayakan Manusia atau KMM. Ambil contoh kasus dayung patah atau orang hanyut di sungai. Untuk menangani keadaan darurat semacam itu, Damkar Kabupaten Bogor hanya mengandalkan satu perahu.
"Perahu cuma satu yang yang bisa dimanfaatkan dipergunakan. Jadi memang kita masih kurang kalau perahu untuk KMM. Jadi kalau perahu kita siapkan di sini untuk penyelamatan,"
Jelas sekali bahwa keterbatasan alat berat ini bisa jadi hambatan serius di lapangan. Padahal, seperti diakui Yudi, peralatan yang memadai adalah kunci efektivitas sebuah operasi penyelamatan.
Di tengah segala keterbatasan itu, para anggota Damkar tak lantas berdiam diri. Mereka berusaha maksimal dengan apa yang ada. Setiap hari, pemeriksaan rutin terhadap semua perlengkapan di dalam mobil unit dilakukan dengan cermat. Prosedur ini wajib, mengingat daftar peralatan yang harus disiapkan begitu panjang dan beragam.
"Jadi setiap hari anggota itu mengecek ulang, mengecek ulang semua perlengkapan dalam satu mobil itu bisa itemnya bisa panjang banyak. Nah itu dipersiapkan,"
Kesiapsiagaan menjadi kunci. Yudi memberi contoh nyata. Saat hujan deras mengguyur seperti beberapa waktu lalu, seluruh peralatan sudah disiapkan sejak dini.
"Kalau misalnya sekarang hujan nih tadi gede hujan gede, mereka udah disiapkan peralatan-peralatannya karena dikhawatirkan ada kejadian yang perlu cepat kita lakukan. Jadi nggak nunggu dulu kejadian tapi peralatan sudah disiapkan,"
Jadi, meski dihadapkan pada kekurangan sarana, semangat dan kesiagaan petugas di lapangan tampaknya tak perlu diragukan lagi. Mereka berusaha berbuat yang terbaik dengan sumber daya yang terbatas.
Artikel Terkait
Mendiktisaintek Turun Tangan Usut Dugaan Pemalsuan Riset WNI di Konferensi Internasional Denmark
Indonesia Kembali Desak Reformasi Dewan Keamanan PBB, Nilai Hak Veto Hambat Suara Negara Berkembang
Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selama Cuti Bersama Idul Adha 1447 H
Wamendesa: Kritik pada Program Pemerintah Bagian dari Demokrasi, Semua Pihak Diajak Bangun Desa