Menurut Agus, salah satu akar masalahnya adalah berkurangnya armada dari Dinas Lingkungan Hidup. Biasanya, ada 15 truk yang rutin beroperasi. Tapi belakangan, yang datang cuma tujuh atau delapan truk saja.
"Pengiriman armada cuma segitu. Ya akhirnya sampah menumpuk," sebutnya.
Pasar yang beroperasi 24 jam itu memang menghasilkan sampah dalam volume sangat besar. Agus menyebut angkanya bisa mencapai 120 hingga 150 ton setiap hari. Dan sampah organik punya karakter khusus.
"Kalau cuma dua tiga hari tidak diangkut, langsung membusuk. Bau tidak nyaman ini yang dirasakan pedagang dan warga sekitar," tutur Agus menjelaskan.
Dikeluhkan Bertahun-tahun
Keluhan warga bukan hal baru. Salah seorang warga RT 03 RW 04 Kelurahan Tengah, Roni, mengaku bau busuk itu sudah jadi masalah bertahun-tahun, bukan cuma bulanan.
"Kalau sudah dibersihkan sih nggak bau. Tapi kalau numpuk lagi, ya bau lagi," keluhnya.
Bau menyengat itu, katanya, paling parah saat sampah dibongkar atau ketika musim hujan tiba. Dan belakangan, gunungan sampah di pasar itu terlihat makin tinggi dan mencemaskan.
Artikel Terkait
Tito Karnavian Keroyok Lumpur dan APBD untuk Pacu Pemulihan Bencana Sumatra
Tiang Listrik Jakarta: Dari Iklan Sedot WC hingga Kentongan Patroli Malam
Nenek Pencuri Baju di Tanah Abang Akhirnya Bayar Rp 1,2 Juta Setelah Mediasi
Ara Tegaskan Huntap Korban Bencana Harus Penuhi Tiga Syarat Krusial Ini