Bau menusuk yang berasal dari gunungan sampah di Pasar Induk Kramat Jati bukan lagi sekadar gangguan. Itu sudah jadi mimpi buruk bagi para pedagang. Pembeli sepi, omzet pun merosot drastis.
Hanif, salah seorang pedagang di sana, mengeluh dengan nada kesal. Menurutnya, aroma busuk itu membuat calon pembeli ogah parkir di area sekitar tumpukan.
Ia memperkirakan pendapatannya anjlok sampai 40 persen. Parahnya, kondisi ini bukan hal baru. Tumpukan sampah yang tak kunjung diangkut itu sudah menggunung sejak empat atau lima bulan terakhir.
Sebenarnya, seharusnya pengangkutan dilakukan minimal tiga kali seminggu. Namun belakangan, armada pengangkut seperti menghilang. Akibatnya, sampah menumpuk jadi pemandangan sehari-hari.
Artikel Terkait
Warga Srengseng Kesal, Oknum Wanita Kabur Bayar Usai Makan-Minum di Warung
Dana Otsus Triwulan I 2026 Cair untuk 16 Daerah Papua, Penyaluran Tercepat Sejak Implementasi
Pembangunan Jalan Pengganti di Batu Tulis Bogor Dimulai, Proses Lelang Fisik Masih Berjalan
Surabaya Raih Penghargaan Global untuk Inovasi Popok Pakai Ulang