"Kalau dilihat dari Agustus sampai September, kasus luar biasa itu makin berkurang," ujar Nanik. Ia bahkan menyebut, belakangan ini hampir tak ada lagi laporan serupa yang terdengar.
Kunci perbaikan ini, salah satunya, terletak pada sertifikat. Sekarang, setiap dapur MBG wajib punya Sertifikat Laik Higiene Sanitasi. Pemeriksaan di tahap awal program dulu sempat menemukan banyak masalah mendasar. Ambil contoh soal air.
"Banyak ditemukan bakteri E. coli di air yang dipakai," jelas Nanik. "Sekarang aturannya jelas: harus pakai air galon bermerek yang terjamin kebersihannya. Hal-hal teknis semacam ini nggak bisa ditawar-tawar lagi."
Di sisi lain, pengawasan program ini nggak cuma jadi tanggung jawab BGN sendiri. Mereka melibatkan banyak pihak. Saat ini, setidaknya ada 17 kementerian dan lembaga yang ikut mengawasi jalannya MBG.
Penanganan dan rilis data kasus keracunan, misalnya, sepenuhnya berada di bawah kewenangan Kementerian Kesehatan. "Tujuannya biar objektif," pungkas Nanik. "Sehingga tidak ada konflik kepentingan."
Artikel Terkait
Warga Srengseng Kesal, Oknum Wanita Kabur Bayar Usai Makan-Minum di Warung
Dana Otsus Triwulan I 2026 Cair untuk 16 Daerah Papua, Penyaluran Tercepat Sejak Implementasi
Pembangunan Jalan Pengganti di Batu Tulis Bogor Dimulai, Proses Lelang Fisik Masih Berjalan
Surabaya Raih Penghargaan Global untuk Inovasi Popok Pakai Ulang