Washington Klaim Kendali Penuh atas Venezuela, Minyak Jadi Taruhan Utama

- Kamis, 08 Januari 2026 | 02:40 WIB
Washington Klaim Kendali Penuh atas Venezuela, Minyak Jadi Taruhan Utama
Artikel Diplomasi Minyak

Pernyataan dari Gedung Putih kali ini terdengar sangat gamblang. Amerika Serikat, begitu klaim mereka, kini punya pengaruh mutlak atas otoritas sementara di Venezuela. Klaim ini muncul tak lama setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro, yang mengubah peta politik negara kaya minyak itu secara drastis.

Menurut laporan AFP, Kamis lalu, Presiden Donald Trump bahkan akan menggelar pertemuan dengan para bos minyak AS pada Jumat. Agendanya jelas: membahas masa depan sektor energi Venezuela yang sedang dalam kekacauan. Karoline Leavitt, Sekretaris Pers Gedung Putih, dengan nada percaya diri menyebut bahwa keputusan otoritas sementara di Caracas nantinya akan "didikte" oleh Washington.

"Jelas kami memiliki pengaruh maksimal atas otoritas sementara di Venezuela saat ini," ujar Leavitt dalam sebuah konferensi pers.

"Kami terus berkoordinasi erat dengan otoritas sementara, dan keputusan mereka akan terus didikte oleh Amerika Serikat," tambahnya tanpa ragu.

Sejak Maduro ditangkap, Trump memang kerap bersuara lantang. Dia berulang kali mengatakan AS akan "menjalankan" Venezuela, sebuah pernyataan yang cukup berani mengingat tidak ada pasukan AS di lapangan sana. Lalu, bagaimana caranya?

Nyatanya, Washington tampaknya mengandalkan dua hal: blokade angkatan laut yang mencekik ekspor minyak Venezuela, dan ancaman penggunaan kekuatan yang selalu menggantung. Strategi ini diharapkan bisa memastikan kerja sama dari presiden sementara, Delcy Rodriguez. Tekanan, bukan pendudukan, yang menjadi senjata utama.

Di sisi lain, ada juga upaya untuk meredam keraguan. Menteri Luar Negeri Marco Rubio, misalnya, merasa perlu menegaskan posisi AS di tengah kritik dari sejumlah anggota parlemen. Setelah bertemu dengan para wakil rakyat di Capitol Hill, dia bersikeras bahwa semua ini bukan aksi tanpa rencana.

"Intinya adalah, kami telah membahas perencanaan tersebut secara rinci dengan mereka. Kami telah menjelaskannya. Bahkan, ini bukan sekadar improvisasi," kata Rubio kepada para wartawan.

Rencana itu seperti apa? Sejauh ini, yang terlihat adalah sebuah kesepakatan masih belum dikonfirmasi oleh pihak Caracas di mana Venezuela akan menyerahkan puluhan juta barel minyak mentahnya ke AS. Trump menyebut angka antara 30 hingga 50 juta barel pada hari Selasa. Selain itu, ada wacana investasi perusahaan minyak AS di fasilitas Venezuela yang sudah tua dan rusak, meski belum ada satu perusahaan pun yang secara resmi berkomitmen.

Pertemuan Jumat nanti, menurut Leavitt, adalah langkah awal. "Itu hanya pertemuan untuk membahas, tentu saja, peluang besar yang ada di hadapan perusahaan-perusahaan minyak ini saat ini," katanya.

Peluang besar di tengah kekosongan kekuasaan. Narasinya sederhana: pengaruh maksimal, dengan minyak sebagai taruhannya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar