Pernyataan dari Gedung Putih kali ini terdengar sangat gamblang. Amerika Serikat, begitu klaim mereka, kini punya pengaruh mutlak atas otoritas sementara di Venezuela. Klaim ini muncul tak lama setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro, yang mengubah peta politik negara kaya minyak itu secara drastis.
Menurut laporan AFP, Kamis lalu, Presiden Donald Trump bahkan akan menggelar pertemuan dengan para bos minyak AS pada Jumat. Agendanya jelas: membahas masa depan sektor energi Venezuela yang sedang dalam kekacauan. Karoline Leavitt, Sekretaris Pers Gedung Putih, dengan nada percaya diri menyebut bahwa keputusan otoritas sementara di Caracas nantinya akan "didikte" oleh Washington.
"Jelas kami memiliki pengaruh maksimal atas otoritas sementara di Venezuela saat ini," ujar Leavitt dalam sebuah konferensi pers.
"Kami terus berkoordinasi erat dengan otoritas sementara, dan keputusan mereka akan terus didikte oleh Amerika Serikat," tambahnya tanpa ragu.
Sejak Maduro ditangkap, Trump memang kerap bersuara lantang. Dia berulang kali mengatakan AS akan "menjalankan" Venezuela, sebuah pernyataan yang cukup berani mengingat tidak ada pasukan AS di lapangan sana. Lalu, bagaimana caranya?
Nyatanya, Washington tampaknya mengandalkan dua hal: blokade angkatan laut yang mencekik ekspor minyak Venezuela, dan ancaman penggunaan kekuatan yang selalu menggantung. Strategi ini diharapkan bisa memastikan kerja sama dari presiden sementara, Delcy Rodriguez. Tekanan, bukan pendudukan, yang menjadi senjata utama.
Artikel Terkait
KPK Panggil Anggota DPRD Bekasi untuk Perkuat Kasus Bupati Nonaktif
Jaksa Italia Selidiki Tragedi Bar Swiss yang Tewaskan 40 Orang
KPK Dalami Aliran Dana Kasus Bupati Bekasi dan Wakil Ketua DPRD
Tragedi di Gaza: Drone Israel Tewaskan Empat Anak dalam Serangan ke Tenda Pengungsi