Serangan udara dilancarkan koalisi Arab Saudi ke wilayah al-Dhale di Yaman. Wilayah itu sebelumnya dikuasai kelompok separatis. Aksi militer ini muncul setelah pemimpin separatis, Aidaros Alzubidis, mangkir dari pertemuan perundingan di Riyadh.
Menurut laporan AFP, Rabu (7/1/2026), koalisi sebenarnya sudah memberi ultimatum. Alzubidi diminta datang ke Riyadh untuk berdiskusi dalam waktu 48 jam. Ini menyusul aksi Dewan Transisi Selatan (STC) yang dipimpinnya, yang merebut banyak wilayah Yaman bulan sebelumnya.
Namun begitu, situasi berbalik. Wilayah-wilayah itu berhasil direbut kembali oleh koalisi Saudi dan sekutu pasukan Yaman dalam beberapa hari terakhir. Kabarnya, Alzubidi sendiri gagal naik pesawat menuju Riyadh. Koalisi menuding dia justru mengerahkan "pasukan besar" di lapangan.
Respons pun datang dari Dewan Kepemimpinan Kepresidenan Yaman.
Lembaga yang memegang kekuasaan eksekutif dan diisi tokoh-tokoh bersaing dari kubu UEA dan Saudi itu akhirnya mengumumkan pemecatan Alzubidi. Dia didakwa melakukan pengkhianatan tingkat tinggi.
Konfrontasi antar faksi ini bikin banyak pihak cemas. Kekhawatiran terbesar adalah kota Aden, kota terbesar kedua Yaman, bakal terjebak dalam kekerasan. STC sendiri bersikeras bahwa pemimpinnya masih bercokol di sana.
Di sisi lain, kemajuan STC dan respons keras Saudi ini ternyata memicu efek lain: hubungan dengan Uni Emirat Arab memburuk drastis. UEA, sebagai kekuatan politik dan penghasil minyak yang punya kepentingan di Yaman, tampaknya tak sejalan dengan langkah Riyadh kali ini. Situasi jadi makin rumit.
Artikel Terkait
Sri Mulyani Bantah Isu Mundur dari Menkeu, Tegaskan Tetap Jalankan Perintah Presiden
Penangkapan Empat Mantan Pejabat BGN dan Wamen oleh Kejagung-KPK Disambut Positif, DPR Sebut Negara Sedang Bersih-bersih
Duduk di Antara Dua Sujud: Momen Singkat yang Sarat Delapan Permohonan Hidup dan Akhirat
Indonesia Miliki 57 Taman Nasional dan 143 Taman Wisata Alam, Kunjungan Wisatawan Terus Meningkat