AS Serbu Venezuela dan Bawa Maduro ke Negeri Paman Sam: Atas Nama Apa?

- Selasa, 06 Januari 2026 | 08:35 WIB
AS Serbu Venezuela dan Bawa Maduro ke Negeri Paman Sam: Atas Nama Apa?

Aksi militer Amerika Serikat di Venezuela pekan lalu benar-benar mengguncang. Bukan cuma serangan, tapi mereka juga menangkap dan membawa Presiden Nicolas Maduro ke wilayah AS. Tindakan dramatis ini langsung memantik pertanyaan besar: atas dasar apa Washington berani melakukan operasi semacam itu di ibu kota negara berdaulat lain?

Menurut Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional UI, langkah AS jelas melanggar aturan main global. Ia merujuk pada Pasal 2 ayat 4 Piagam PBB yang melarang penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu negara.

"Suatu negara yang melakukan serangan ke negara lain, bahkan membawa kepala pemerintahan negara tersebut untuk diadili di pengadilan negara yang menyerang, secara hukum kebiasaan internasional dilarang," tegas Hikmahanto kepada wartawan, Selasa (6/1/2026).

Namun begitu, ia menduga AS punya alasan untuk membela diri. Tamengnya kemungkinan adalah Pasal 51 Piagam PBB, yang mengatur hak membela diri.

Bagi pemerintah Trump, perang melawan narkoba adalah isu krusial. Maduro dianggap tidak kooperatif, bahkan membiarkan Venezuela jadi markas para gembong narkoba untuk menyelundupkan barang haram ke Amerika.

"Justru Presiden Maduro dianggap membiarkan negaranya dijadikan tempat para gembong Narkoba untuk mengirim narkoba ke AS," tambahnya.

Lalu, bagaimana dengan reaksi dunia internasional? Hikmahanto menyoroti bahwa sikap sekutu-sekutu tradisional AS belakangan kerap dingin terhadap kebijakan Trump. Ia masih menunggu apakah mereka akan membenarkan aksi ini.

"Negara seperti China dan Rusia dapat dipastikan akan mengutuk serangan AS ke Venezuela. Dalam konteks ini perlu juga dinantikan posisi Indonesia. Apakah akan mengutuk atau membenarkan tindakan AS," paparnya.

Puncak dari Tekanan Berbulan-bulan

Operasi penangkapan Maduro ini bukan datang tiba-tiba. Ini adalah puncak dari tekanan berbulan-bulan pemerintahan Trump terhadap Caracas. Pada Sabtu (3/1) dini hari, pasukan AS bergerak. Serangan itu berujung pada ditangkapnya Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, untuk kemudian dibawa ke Amerika.

Trump sejak lama mendesak Maduro turun dan menuduhnya melindungi kartel narkoba. Tuduhan itu berat: bahwa Maduro dan jaringan narkoba bertanggung jawab atas ribuan kematian akibat narkoba di AS.

Catatan operasi AS sebenarnya sudah berjalan. Sejak September 2025, lebih dari 100 orang tewas dalam setidaknya 30 serangan terhadap kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba dari Venezuela. Para ahli hukum internasional melihat, pola aksi sepihak AS ini sudah lama bermasalah, berpotensi melanggar hukum nasional mereka sendiri maupun hukum internasional.

Kini, setelah aksi paling berani itu terjadi, bola ada di pihak masyarakat global. Kecaman sejumlah pemimpin dunia sudah bergema. Tapi langkah selanjutnya, masih jadi teka-teki.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar