Inggris dan Prancis Gempur Fasilitas Bawah Tanah ISIS di Suriah

- Senin, 05 Januari 2026 | 16:40 WIB
Inggris dan Prancis Gempur Fasilitas Bawah Tanah ISIS di Suriah

Inggris dan Prancis baru-baru ini menggelar serangan militer gabungan. Sasaran mereka? Target kelompok radikal Islamic State (ISIS) di wilayah Suriah. Menurut keterangan resmi dari kedua negara, serangan yang dilancarkan pada hari Minggu (4/1) itu dimaksudkan untuk mencegah kebangkitan kembali kelompok ekstremis tersebut.

Operasi ini tak muncul tiba-tiba. Ia merupakan bagian dari Operation Inherent Resolve, sebuah misi internasional yang dipimpin Amerika Serikat untuk melawan ISIS di Irak, Suriah, dan Libya. Pernyataan militer Prancis, seperti dilansir AFP pada Senin (5/1/2026), dengan tegas menyebut hal itu.

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Inggris mengeluarkan pernyataan terpisah. Mereka mengungkapkan bahwa kerja sama dengan Prancis telah dilakukan sejak Sabtu (3/1) malam. Fokusnya adalah membombardir sebuah fasilitas bawah tanah di Suriah.

"Pesawat-pesawat Angkatan Udara Kerajaan telah menyelesaikan serangan yang sukses terhadap Daesh dalam operasi gabungan dengan Prancis," begitu bunyi pernyataan mereka.

Fasilitas yang dihancurkan itu diduga kuat dipakai ISIS atau Daesh untuk menyimpan persenjataan dan bahan peledak. Kabar baiknya, area sekitarnya disebut-sebut tidak berpenghuni.

"Area di sekitar fasilitas tersebut tidak dihuni oleh warga sipil," imbuh pernyataan itu lagi, mencoba menegaskan bahwa operasi ini mempertimbangkan aspek kemanusiaan.

Mereka juga menekankan, tidak ada indikasi bahwa pengeboman di wilayah utara situs kuno Palmyra itu membahayakan penduduk setempat. Sebuah upaya untuk meredam kekhawatiran.

Sementara itu, lewat unggahan di media sosial X, Angkatan Bersenjata Prancis menyuarakan hal serupa. Kedua sekutu NATO ini, tulis mereka, melancarkan serangan terhadap posisi-posisi kelompok teroris Islamic State.

"Mencegah kebangkitan kembali Daesh merupakan isu utama bagi keamanan kawasan," tegas pernyataan Prancis. Sebuah pesan yang jelas bahwa ancaman ini masih dianggap nyata dan mendesak untuk diantisipasi.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar