Langit pagi di sekitar Pyongyang kembali menyala. Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, terlihat menyaksikan sebuah rudal hipersonik "mutakhir" melesat ke angkasa. Uji coba ini, kata media pemerintah setempat, adalah bagian dari persiapan pasukan nuklir mereka menghadapi perang. Laporan yang muncul Senin (5/1) itu menyebut situasi geopolitik global yang memanas membuat latihan semacam ini jadi semakin mendesak. Isyaratnya jelas, dan banyak yang membaca ini sebagai respons terhadap aksi Amerika Serikat di Venezuela baru-baru ini.
Sebelumnya, otoritas di Seoul dan Tokyo sudah mendeteksi dua rudal balistik diluncurkan dari kawasan ibu kota Korea Utara pada Minggu (4/1). Itu adalah uji coba rudal pertama mereka tahun ini. Waktunya cukup menarik, karena peluncuran terjadi hanya beberapa jam sebelum Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, berangkat ke China untuk sebuah pertemuan penting.
Lee sendiri berharap kunjungannya bisa membuka jalan. Ia ingin memanfaatkan pengaruh Beijing terhadap Pyongyang untuk mencairkan hubungan dengan Korea Utara.
Namun begitu, pesan dari utara justru keras. Melalui Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), Kim Jong Un menyatakan uji coba ini menunjukkan "kesiapan pasukan nuklir DPRK".
"Pencapaian penting telah dilakukan baru-baru ini dalam menempatkan pasukan nuklir kita pada basis praktis dan mempersiapkannya untuk perang yang sebenarnya,"
demikian pernyataan Kim yang dikutip media pemerintah. Aktivitas militer ini, lanjutnya, bertujuan memajukan penangkal perang nuklir mereka ke tingkat yang lebih tinggi.
Foto-foto yang beredar memperlihatkan suasana saat itu. Kim Jong Un terlihat santai menghisap rokok, dikelilingi para jenderal, sambil mata mereka mengikuti jalur rudal di langit fajar.
Menurut sejumlah saksi, Kim juga menyebut alasan di balik kebutuhan uji coba ini. "Mengapa hal itu diperlukan telah dicontohkan oleh krisis geopolitik baru-baru ini dan peristiwa internasional yang rumit," katanya. Ini adalah sindiran yang cukup transparan terhadap operasi penangkapan yang dilakukan Washington terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, akhir pekan lalu.
Reaksi Pyongyang terhadap insiden Venezuela pun keras. Mereka mengutuknya sebagai "pelanggaran serius terhadap kedaulatan" yang dinilai membuktikan kembali sifat barbar Amerika Serikat. Jadi, lewat rudal dan retorika, pesannya dikirimkan dengan jelas ke seluruh dunia.
Artikel Terkait
Rudal Balistik Rusia Serang Kyiv, Polandia Kerahkan Jet Tempur
Pemerintah Buka Suara Soal Impor Jagung AS Khusus untuk Industri Makanan dan Minuman
Polisi Selidiki Kematian Santri Sukabumi Diduga Akibat Kekerasan dan Penyakit Kronis
Ronaldo Berpuasa Dua Hari di Ramadan, Mantan Rekan Ungkap Sikap Hormatnya