Trump Beri Ultimatum: Bekerja Sama atau Hadapi Nasib Lebih Buruk dari Maduro

- Senin, 05 Januari 2026 | 04:10 WIB
Trump Beri Ultimatum: Bekerja Sama atau Hadapi Nasib Lebih Buruk dari Maduro
Artikel Trump Venezuela

Setelah penangkapan Nicolas Maduro, Donald Trump tak butuh waktu lama untuk mengeluarkan peringatan keras. Presiden AS itu mengirim ultimatum terbuka ke pemerintahan Venezuela yang baru. Intinya sederhana: bekerjasamalah, atau nasib kalian akan lebih buruk.

Dalam percakapan telepon singkat dengan The Atlantic, Trump bersuara lantang. "Kalau dia enggak melakukan yang benar, dia akan bayar harga yang mahal banget. Mungkin lebih mahal dari Maduro," ujarnya, seperti dilaporkan AFP, Senin (5/1/2026).

Ultimatum itu ditujukan kepada Delcy Rodriguez, yang kini mengambil alih tampuk kepemimpinan sementara. Sebelumnya, Rodriguez adalah wakil presiden di era Maduro. Dan dia sama sekali tak terlihat gentar.

Menanggapi serangan AS di Caracas hari Sabtu (3/1) lalu, Rodriguez justru menantang. Dia bersikukuh bahwa Maduro tetap pemimpin sah satu-satunya. "Kami siap membela sumber daya alam kami," tegasnya.

Memang, situasi di Caracas sedang panas. Pasukan AS menggempur ibu kota Venezuela itu dini hari Sabtu. Mereka membombardir sejumlah target militer, lalu menangkap Maduro beserta istrinya. Keduanya akan dihadapkan ke pengadilan New York atas tuduhan perdagangan narkoba.

Di sisi lain, pemerintahan Trump sebenarnya membuka pintu untuk kerjasama. Syaratnya, tujuan AS harus dipenuhi termasuk soal akses investasi AS ke cadangan minyak mentah Venezuela yang sangat besar itu.

Trump bahkan punya visi yang lebih jauh. Dalam wawancaranya, dia bicara tentang membangun kembali Venezuela dari puing-puing.

"Membangun kembali bukan hal buruk, dalam kasus Venezuela," katanya.

Lalu dengan nada khasnya, dia menambahkan, "Negara itu sudah hancur. Negara gagal. Benar-benar gagal. Sebuah bencana dalam segala hal."

Jadi, begitulah situasinya sekarang. Sebuah ultimatum menggantung, sementara di Caracas, pemimpin baru sudah bersiap untuk perlawanan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar