Kerumunan Malam Tahun Baru di Basra Berujung Pelecehan Massal, 17 Pelaku Diciduk

- Minggu, 04 Januari 2026 | 05:15 WIB
Kerumunan Malam Tahun Baru di Basra Berujung Pelecehan Massal, 17 Pelaku Diciduk

Video itu beredar cepat, memicu amarah. Puluhan pria, dalam kerumunan malam Tahun Baru, mendorong dan mengangkat seorang wanita yang berteriak-teriak. Adegan kacau itu direkam di Basra, kota di selatan Irak, dan segera menjadi sorotan nasional. Tak butuh waktu lama, pihak berwenang bergerak. Gubernur Basra, Asaad al-Eidani, mengumumkan penangkapan 17 orang terkait insiden pelecehan yang memalukan itu.

"Pemerintah daerah tidak akan mentolerir perilaku apa pun yang melanggar kesopanan publik atau mengganggu keamanan masyarakat," tegas al-Eidani.

Rekaman dari sudut lain bahkan lebih mengerikan. Terlihat beberapa pria berusaha memaksa korban masuk ke dalam sebuah mobil, dengan tangan mereka menekan kepala wanita malang itu. Sungguh pemandangan yang sulit ditelan.

Di sisi lain, ini bukan cerita baru. Kekerasan terhadap perempuan sudah jadi momok lama di Irak. Masyarakat yang sangat patriarkal ini akrab dengan kasus-kasus yang sering disebut 'pembunuhan demi kehormatan', meski data resminya sulit didapat. Yang jelas, insiden di Basra ini hanyalah puncak gunung es.

Organisasi Kebebasan Perempuan di Irak (OWFI), yang biasa menangani korban kekerasan, langsung bersuara keras. Mereka mengutuk habis-habisan kejadian itu.

"Pelecehan massal terhadap perempuan dan anak perempuan semakin umum terjadi di acara-acara publik," tulis organisasi itu dalam pernyataannya.

"Jalanan, alun-alun, dan tempat-tempat berkumpul berubah menjadi ruang yang tidak aman. Di sana, martabat perempuan diinjak-injak. Hak mereka untuk hidup tenang dan berpartisipasi di ruang publik, lenyap begitu saja oleh rasa takut."

Bagi OWFI, ini bukan sekadar ulah segelintir orang. Ini adalah gejala yang lebih parah. Mereka menyebutnya sebagai akibat dari kemerosotan struktur sosial-politik, diperparah budaya impunitas dan sistem tradisional yang kaku. Intinya, para pelaku merasa kebal, dilindungi oleh norma yang sudah usang.

Angkanya pun mencengangkan. Menurut PBB, lebih dari satu juta perempuan dan anak perempuan di Irak terancam menjadi korban kekerasan berbasis gender. Itu angka yang sangat besar, dan setiap video viral seperti ini adalah pengingat pahit bahwa ancaman itu nyata, mengintai di keramaian sekalipun.

Jadi, meski 17 orang telah ditangkap, pertanyaannya tetap menggantung: apakah ini cukup untuk mengubah keadaan? Atau hanya sekadar aksi damai sebelum badai berikutnya datang?

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar