"Pelecehan massal terhadap perempuan dan anak perempuan semakin umum terjadi di acara-acara publik," tulis organisasi itu dalam pernyataannya.
"Jalanan, alun-alun, dan tempat-tempat berkumpul berubah menjadi ruang yang tidak aman. Di sana, martabat perempuan diinjak-injak. Hak mereka untuk hidup tenang dan berpartisipasi di ruang publik, lenyap begitu saja oleh rasa takut."
Bagi OWFI, ini bukan sekadar ulah segelintir orang. Ini adalah gejala yang lebih parah. Mereka menyebutnya sebagai akibat dari kemerosotan struktur sosial-politik, diperparah budaya impunitas dan sistem tradisional yang kaku. Intinya, para pelaku merasa kebal, dilindungi oleh norma yang sudah usang.
Angkanya pun mencengangkan. Menurut PBB, lebih dari satu juta perempuan dan anak perempuan di Irak terancam menjadi korban kekerasan berbasis gender. Itu angka yang sangat besar, dan setiap video viral seperti ini adalah pengingat pahit bahwa ancaman itu nyata, mengintai di keramaian sekalipun.
Jadi, meski 17 orang telah ditangkap, pertanyaannya tetap menggantung: apakah ini cukup untuk mengubah keadaan? Atau hanya sekadar aksi damai sebelum badai berikutnya datang?
Artikel Terkait
Ancaman Bom di SMA Jatinegara Dinyatakan Hoax Setelah Pengecekan Gegana
Trump Bantah Laporan Media Soal Sikap Jenderal Top AS terhadap Iran
Polda Sumsel Musnahkan 8 Kg Sabu dan Ekstasi, Ungkap Sindikat Lintas Negara
Siswi SMP Ditemukan Tewas dalam Kondisi Mengenaskan di Kali Terpencil Sikka