Kunjungan itu mencuri perhatian. Untuk pertama kalinya, Kim Ju Ae, putri pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, tampil di mausoleum tempat kakek dan buyutnya, para pendiri rezim, dimakamkan. Kehadirannya di tempat yang sakral itu langsung memicu spekulasi: apakah ini sinyal awal dari proses suksesi?
Menurut sejumlah saksi, langkah Pyongyang belakangan ini memang makin agresif. Uji coba rudal digelar berkali-kali dalam beberapa tahun terakhir. Para analis melihat ini sebagai strategi tiga ujung: menyempurnakan serangan presisi, menantang AS dan Korea Selatan, sekaligus menguji produk sebelum dikirim ke sekutu barunya, Rusia.
Di sisi lain, laporan dari Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) menyoroti perintah Kim Jong Un di lapangan. Saat mengunjungi sejumlah pabrik, dia mendesak para pekerja bersiap untuk tahun yang padat. Permintaan dari angkatan bersenjata, katanya, harus dipenuhi.
"Sektor produksi rudal dan peluru sangat penting dalam memperkuat pencegahan perang," tegas Kim.
Tak cuma itu, dia juga memerintahkan pembangunan pabrik amunisi baru dan mendorong perluasan kapasitas produksi secara menyeluruh. Semuanya digerakkan untuk mendukung ambisi militer negara itu. Kunjungan sang putri dan desakan sang ayah, terjadi hampir beriringan. Keduanya seperti dua sisi dari koin yang sama memproyeksikan kelanggengan dinasti sekaligus kekuatan tempurnya.
Artikel Terkait
PNS Laporkan Hadiah dari Anak Magang ke KPK, Ternyata Ada Aturan Mainnya
Bali Perketat Pintu Masuk, Cek Rekening Turis Asing Jadi Syarat Baru
Habiburokhman Buka Suara: Ini Pengaman Kritik dalam KUHP Baru
Hakim MK Ditegur Lantaran Sering Bolos Sidang