Maraknya aksi teror yang diduga menimpa sejumlah influencer pasca mengkritik penanganan bencana di Sumatera, mendapat sorotan serius dari Menteri HAM, Natalius Pigai. Ia menegaskan, setiap laporan intimidasi harus ditindaklanjuti dengan sungguh-sungguh lewat jalur hukum yang ada.
"Terkait maraknya teror yang menimpa influencer, saya minta kepada aparat kepolisian untuk mengusut secara tuntas agar diketahui apa motif dan siapa pelakunya,"
tegas Pigai dalam pernyataannya, Jumat lalu.
Di sisi lain, Pigai mengapresiasi kebebasan berpendapat yang digunakan siapa pun, termasuk para influencer. Namun begitu, ia mengingatkan sebuah kecenderungan yang kerap muncul: kritik yang seharusnya konstruktif acap kali berubah jadi serangan personal, baik terhadap individu maupun lembaga.
Bahkan, menurut pengamatannya, tidak mustahil ada oknum yang sengaja memainkan narasi sebagai korban atau playing victim hanya untuk mendongkrak jumlah subscriber dan follower. Alih-alih berdialog sehat, yang terjadi justru gangguan terhadap kehormatan orang lain.
"Saat ini kita menikmati surplus demokrasi, yakni hak berpendapat atas pikiran dan perasaan yang dijamin tanpa adanya protokol lalu lintas. Dalam situasi ini, tidak mungkin institusi, apalagi negara, menghalangi kebebasan tersebut,"
ujarnya lagi.
Karena itulah, Pigai menilai perlu kehati-hatian ekstra. Ruang demokrasi yang terbuka lebar ini jangan sampai disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu saja. Ia juga mengingatkan para influencer agar tidak serta-merta mem-framing pemerintah sebagai biang keladi, sebab sampai detik ini belum ada pihak yang bisa dipastikan bersalah sebelum penyelidikan hukum selesai.
Artikel Terkait
Longsor Tewaskan Empat Pekerja Proyek Lapangan Bola di Jatinangor
Kapolres Sragen Resmikan Jembatan Merah Putih, Langsung Uji Coba dengan Warga
Kapolres Kampar Blusukan ke Pospam Tol, Ingatkan Personel Utamakan Pelayanan
Bendera GAM Berkibar di Tengah Reruntuhan Gempa Aceh: Provokasi atau Sinyal Bahaya?