Musim hujan ini memang keras. Di Aceh, Sumut, dan Sumbar, banyak warga yang rumahnya hancur diterjang bencana. Mereka masih menunggu, hidup di pengungsian, tanpa kepastian kapan punya tempat tinggal yang layak lagi. Nah, Andi Iwan Darmawan Aras, Wakil Ketua Komisi V DPR, angkat bicara soal ini. Menurutnya, proses pemulihan bakal jalan di tempat kalau masalah hunian tetap nggak segera dituntaskan.
"Kami berharap penyediaan lahan untuk hunian tetap dapat segera direalisasikan, baik dari tanah pemerintah, BUMN, maupun PTPN," ujar politisi Gerindra itu, Jumat lalu.
"Kemudian pelaksanaannya dilakukan oleh Kementerian Perumahan melalui pembangunan rumah-rumah tetap," tambahnya.
Selain mendorong percepatan huntap, Andi juga mengingatkan soal rumah yang rusak ringan. Untuk kategori ini, sebenarnya sudah ada beberapa skema bantuan yang bisa diakses. Misalnya lewat program Bedah Rumah atau Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Ada juga bantuan rehabilitasi dari Kemensos yang nilainya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Intinya, jangan sampai bantuan-bantuan yang sudah ada ini nggak tersalurkan.
Di sisi lain, Andi punya pemikiran yang cukup praktis terkait efisiensi. Ia melihat ada sumber daya lokal yang sayang kalau dibiarkan jadi limbah. Ambil contoh kayu-kayu gelondongan yang terbawa banjir. Material itu sebenarnya masih bisa dipakai.
"Mungkin diperlukan diskresi terkait pemanfaatan kayu-kayu gelondongan tersebut," jelasnya.
Dengan memanfaatkan kayu itu untuk material bangunan, biaya pembangunan bisa ditekan. Baik yang dari APBN maupun dari dana CSR perusahaan.
Namun begitu, membangun kembali rumah saja belum cukup. Ancaman bencana susulan masih mengintai, mengingat puncak musim hujan diperkirakan masih lama. Di sinilah peran BMKG jadi krusial. Andi menekankan pentingnya peringatan dini yang akurat dan cepat.
"Kami terus meminta BMKG untuk memberikan early warning kepada masyarakat dan pemerintah daerah," imbuhnya.
Peringatan yang tepat waktu, menurutnya, adalah kunci agar semua pihak bisa bersiap lebih baik dan meminimalisir korban jiwa di masa-masa rentan seperti sekarang ini.
Artikel Terkait
Rano Karno Klaim 97% Program Kerja Tahun Pertama Pramono Anung Tuntas, Fokus 2026 pada Banjir, Macet, dan Kemiskinan
Kawasan Kota Tua Jakarta Tetap Buka Saat Ramadan 2026 dengan Penyesuaian Jam Operasional
Menteri Kebudayaan dan Dubes Yaman Bahas Kerja Sama Seni hingga Warisan Budaya
ART di Bogor Dilaporkan Dianiaya Majikan hingga Luka-luka