Jadi, kejadiannya memang di sekitar perlintasan JPL 9, Desa Durungbedug. Menurutnya, orang tua anak-anak tersebut sudah datang dan meminta maaf kepada pihak KAI.
Di sisi lain, petugas KAI Daop 8 Surabaya yang menangani kasus ini punya kesimpulan serupa. Mereka sudah mendatangi keluarga kedua anak itu.
"Karena masih anak-anak, sekitar 12 tahun, kami simpulkan ini murni iseng. Mereka belum memahami risiko dan bahaya dari perbuatannya," ujar Manager Humas Daop 8 Surabaya, Mahendro Trang Bawono.
Intinya, aksi nekat itu dipicu keisengan. Untung saja tidak berakhir dengan tragedi. Peristiwa ini jadi pengingat keras tentang pentingnya pengawasan dan edukasi pada anak-anak, terutama yang tinggal di kawasan rawan seperti dekat rel kereta.
Artikel Terkait
Tragedi di Kontrakan Warakas: Tiga Nyawa Melayang, Mulut Berbusa
Tragedi Misterius di Warakas, Satu Kelarga Terbaring Tiga Tewas
Teriakan Malam di Gang 10: Satu Keluarga Tewas, Seorang Selamat dengan Luka Melepuh
Operasi Lilin Diperpanjang, Destinasi Wisata Masih Ramai Pascanataru