Athena – Suasana di markas Panathinaikos sedang tidak karuan. Krisis besar menghadang pelatih Rafa Benitez, yang posisinya kini terancam. Performa tim yang terus merosot dalam beberapa bulan terakhir membuat sang manajer asal Spanyol itu berada di ujung tanduk.
Padahal, kedatangannya ke Yunani Oktober lalu disambut gegap gempita. Benitez, sang mantan pelatih Liverpool, menandatangani kontrak dua setengah tahun dengan nilai fantastis: sekitar Rp 79,67 miliar per tahun. Angka itu langsung menjadikannya pelatih dengan bayaran tertinggi sepanjang sejarah Super League Yunani. Ekspektasi pun melambung tinggi.
Namun begitu, realita di lapangan sungguh berbeda. Dari 25 pertandingan yang sudah dijalaninya, Benitez cuma mampu membukukan 13 kemenangan. Kekalahan sudah enam kali, tersebar di berbagai kompetisi. Memang, posisi liga naik dari peringkat ketujuh jadi kelima sejak ia ambil alih. Tapi itu jelas belum cukup.
Bagi klub sekaliber Panathinaikos klub dengan koleksi gelar domestik terbanyak kedua setelah Olympiacos peringkat kelima adalah pencapaian yang mengecewakan. Mereka bahkan belum pernah finis di bawah posisi itu sejak musim 2018-19. Yang lebih mencemaskan, jarak dengan puncak klasemen dan zona Liga Champions kian melebar. Impian untuk bersaing di level tertinggi makin jauh dari genggaman.
Laporan dari sejumlah media lokal Yunani mengungkapkan ketidakpuasan di dalam ruang ganti. Beberapa pemain dikabarkan frustrasi dengan metode kerja Benitez. Keluhannya, analisis taktis mendalam sebelum laga sangat minim. Situasi ini membuat atmosfer tim kurang ideal.
Artikel Terkait
Pengamat Soroti Pendekatan Herdman sebagai Pembeda di Timnas Indonesia
Ducati Krisis Awal Musim: Bagnaia Soroti Masalah Teknis, Marquez Introspeksi Diri
Debut Pahit Cyrus Margono, Persija Tumbang di Lampung
Pelatih Hector Souto Akui Persiapan Timnas Futsal Indonesia untuk Piala AFF 2026 Sangat Mepet