Dua Preman Diamankan Usai Pukuli Pedagang yang Tolak Bayar Uang Kebersihan

- Kamis, 01 Januari 2026 | 11:05 WIB
Dua Preman Diamankan Usai Pukuli Pedagang yang Tolak Bayar Uang Kebersihan

Kejadian itu bermula dari sebuah penolakan. Seorang pedagang kaki lima di sekitar Banjir Kanal Timur, Jakarta Timur, tak mau mengeluarkan uang Rp 200 ribu yang diminta dua orang preman. Alhasil, penolakan itu berujung ricuh dan pengeroyokan yang kemudian beredar luas di media sosial.

Video yang viral itu memang memicu geram. Terlihat seorang pria, sang pedagang, disundul hingga hidungnya berdarah. Ada juga ancaman senjata tajam. Suara teriakan, "Apa, lu mau nantangin?" menggambarkan situasi yang mencekam saat itu.

Setelah penyelidikan, polisi akhirnya menangkap dua tersangka. Mereka adalah SH (52) dan SA (36).

Kapolres Jakarta Timur Kombes Alfian Nurrizal menjelaskan peran masing-masing pelaku melalui unggahan di Instagram-nya, Kamis (1/1/2026).

"Pelaku berinisial SH, warga Kecamatan Duren Sawit, berperan meminta uang kebersihan kepada korban dengan disertai ancaman senjata tajam jenis pisau bersama rekannya," jelas Alfian.

Sementara itu, SA yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang parkir, tak kalah brutal.

"Pelaku SA melakukan kekerasan dengan cara menyundul korban hingga mengakibatkan luka pada hidung dan mengeluarkan darah," imbuhnya.

Kedua pria yang mengaku sebagai 'penguasa wilayah' itu kini sudah diamankan. Mereka bakal dihadapkan pada proses hukum yang berlaku.

Menurut sejumlah saksi, peristiwa memilukan ini terjadi pada Kamis (25/12) lalu. Lokasinya di belakang Perumahan Cipinang Indah, dekat jembatan BKT. Aksi pemalakan berkedok 'uang kebersihan' itu ternyata menimpa dua pedagang, bukan cuma satu.

Salah satu korban mengalami luka di tangan, selain hidung yang berdarah. Lukanya didapat saat berusaha menangkis serangan pisau yang diayunkan para preman.

Cerita dari lapangan menyebutkan, korban menolak membayar karena dagangannya baru saja buka. Belum ada penghasilan, tapi sudah ditagih paksa. Ya, alasan yang sangat manusiawi, bukan?

Kini, setelah aksi mereka terekam dan tersebar, kedua pelaku harus berhadapan dengan hukum. Masyarakat pun berharap, ini jadi peringatan keras. Bahwa tindakan semena-mena seperti ini tak akan dibiarkan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar