Dari Hutan Papua ke Mimpi PLN: Perjalanan Sergio di Sekolah Rakyat

- Minggu, 28 Desember 2025 | 14:45 WIB
Dari Hutan Papua ke Mimpi PLN: Perjalanan Sergio di Sekolah Rakyat

Dari jendela kelasnya di lantai dua, Sergio Libert Rawai menatap gunung di kejauhan. Pemandangan itu mengingatkannya pada rumah. Gunung itu, katanya, mirip dengan Gunung Rawai di kampung halamannya yang namanya sama persis dengan marga yang ia sandang.

"Rawai nama marga saya," ucapnya, seraya menunjukkan nama di seragam putihnya.

Sudah lebih dari lima bulan ia tinggal di asrama SRMA 29 Jayapura, tanpa pulang. Kerinduan itu terasa berat. Kampungnya, Ambaidiru di Kabupaten Kepulauan Yapen, terpaut jarak yang sangat jauh. Untuk mencapainya, Sergio harus menempuh perjalanan laut hampir 30 jam, lalu dilanjutkan dengan tiga jam perjalanan darat. "Naik kapal berangkat pagi sampai pagi lagi," tuturnya menggambarkan.

Kesempatan yang Hampir Terlewat

Sebelumnya, masa depan Sergio tak pasti. Setelah lulus SMP, ia nyaris tak bisa melanjutkan ke SMA di Kota Serui. Biaya menjadi penghalang besar. Kakek dan neneknya, Simson dan Tirsa, yang merawatnya sejak orang tuanya berpisah, hanya mengandalkan hasil kebun kopi dan pekerjaan serabutan sebagai tukang bangunan. Uang itu juga harus membiayai kuliah salah satu anak mereka di kota.

"Tete tidak setuju lanjut sekolah karena tidak ada biaya," kenang Sergio. Tapi mungkin ada rezeki untuk saya.

Rezeki itu datang lewat seorang pendamping program dari Kemensos yang menawarkan tempat di Sekolah Rakyat. Program yang digagas Presiden Prabowo Subianto ini menanggung semua biaya, termasuk hidup di asrama. Awalnya, kakek neneknya yang sedang di kebun kopi sempat kaget. Tapi akhirnya mereka setuju.

Sadar akan hidup jauh dari rumah, Sergio pun mengajak sahabatnya, Sepnat Karubaba, untuk mendaftar bersama. "Saya ajak dia masuk, supaya ada teman bisa sama-sama masuk sini," katanya. Setelah sedikit perdebatan di keluarga Sepnat, akhirnya mereka berdua berangkat.

Sahabat dan Hutan

Persahabatan mereka sudah lama. Dulu, mereka berjalan kaki hampir setiap hari ke SMP, seringkali hanya bermodal sandal Swallow. Tapi lebih dari itu, hutan adalah bagian dari kehidupan mereka. Berburu adalah kegiatan rutin, baik untuk tambahan uang saku atau sekadar memenuhi keinginan makan daging.

"Kalau ingin makan daging kuskus ya berburu," cerita Sergio dengan lancar. "Saya suka berburu di hutan sama Sepnat, tembak burung, kalau malam cari kuskus, kayak kanguru pohon. Selesai jam 3 tidur menginap di goa, pagi lanjut jalan."

Bagi mereka, ini hal yang biasa. Orang tua pun senang karena berarti ada lauk istimewa. Mereka bisa mendapatkan puluhan ekor hewan dalam seminggu. "Pernah dapat kasuari, soa soa, tikus, ular pohon itu kesukaanku," katanya.

Dunia Baru di Asrama

Hari-hari pertama di asrama tentu tidak mudah. Rindu rumah dan adaptasi dengan teman-teman dari daerah lain di Papua yang bahasanya berbeda menjadi tantangan. Namun, dukungan dari guru dan pengasuh membantu mereka melewatinya.

Lambat laun, Sergio menemukan banyak hal baru. Ia tersenyum lebar saat menunjukkan sepatu dan tas barunya. "Di rumah tidur pakai tikar, di sini pakai kasur, enak di sini. SMP sekolah pakai sandal, di sini pakai sepatu. Sepatu dapat, baju olahraga, baju harian," jelasnya penuh syukur.

Rutinitasnya berubah total. Ia kini lebih fokus belajar dan disiplin mengatur waktu. Dan yang jelas, ia tak perlu lagi masuk hutan untuk mencari lauk. "Kalau di sini belajar, kalau di kampung berburu. Kalau di sini dagingnya beda, daging ayam, daging ikan," ujarnya.

Mimpi yang Kini Bercahaya

Dunia Sergio dan Sepnat kini lebih luas. Mereka punya teman dari berbagai latar, bahkan diajar oleh guru dari Jawa. Dari sanalah, cita-cita yang dulu mungkin tak terpikirkan, mulai mengkristal.

Sergio bercita-cita jadi pegawai PLN. Alasannya sederhana tapi mendalam: ia ingin menerangi kampung halamannya, yang baru menikmati listrik pada 2019. "Senang punya banyak teman, dapat sekolah gratis, tiap hari bisa makan tiga kali," katanya. "Cita-cita PLN karena saya di kampung ada adik tete jadi PLN. Biasa ikut sambung kabel, panjat tiang malam-malam."

Sementara Sepnat bercita-cita masuk Polri. Ia kini serius belajar Matematika dan Bahasa Indonesia untuk persiapan seleksi. "Menggambar yang kurang," seloroh Sepnat tentang kelemahannya.

Mimpi mereka memang telah melampaui apa yang pernah dibayangkan. Dari pinggiran hutan Papua, mereka kini merangkai masa depan. Kehadiran negara melalui Sekolah Rakyat membuka jalan yang dulu terlihat tertutup.

Tapi di balik tekad itu, mereka tetaplah anak-anak yang rindu pada pelukan keluarga. Sergio berharap bisa pulang saat Natal nanti, melepas rindu yang sudah menumpuk. "Sangat rindu tete nene," pungkasnya dengan nada khas. "Harus pulang ketemu sekali."

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar