Kerusakan alam yang memicu berbagai bencana di Indonesia belakangan ini tak luput dari perhatian Keuskupan Agung Jakarta. Bahkan, isu lingkungan ini akan jadi fokus utama yang digaungkan pada tahun 2026 mendatang.
Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta, mengungkapkan hal itu saat ditemui di gereja Katedral, Jakarta Pusat, Kamis lalu. Menurutnya, ada sebuah konsep yang akan terus didorong.
"Nah sekarang ini, yang sedang digalakkan, tahun depan, tahun 2026, Keuskupan Agung Jakarta memberi perhatian pada yang namanya tanggung jawab untuk menjaga lingkungan hidup. Maka ada yang namanya pertobatan ekologis, itu yang akan terus didengungkan,"
Lalu, seperti apa wujud "pertobatan ekologis" itu? Suharyo membeberkan, konsepnya sebenarnya punya banyak cara penerapan. Namun begitu, hal-hal sederhana dalam keseharian justru sering terlupakan.
Dia lantas memberi contoh nyata, yang mungkin sering kita alami: soal sisa makanan.
"Pertobatan ekologis itu isinya macam-macam yang pernah dilakukan, susahnya atau sayangnya itu sekarang dilupakan. Salah satu bentuk pertobatan ekologis, misalnya salah satu contoh kecil, atau, kalau saya biasanya makan kalau tidak enak dibuang, sampah makanan itu di Indonesia kan besar sekali,"
"Pertobatan ekologis artinya saya sekarang sebagai yang sedang bertaubat, kalau ambil makanan ya jangan semau-mau matanya, tetapi diambil secukupnya supaya tidak menyisakan sampah. Itu pertobatan ekologis,"
Contoh lain? Masih berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari. Misalnya, memilih untuk tidak memakai kantong plastik saat berbelanja dan beralih ke wadah yang lebih ramah lingkungan. Dua hal itu, meski terlihat sepele, merupakan bagian penting dari seruan tobat ekologis yang akan diusung Keuskupan.
Intinya, menurut Suharyo, bentuk pertobatan ini sangat beragam. Bisa menyentuh banyak aspek kehidupan.
"Macam-macam hal kecil seperti itu, salah satu bentuk pertaubatan. Pertaubatannya banyak sekali, bentuknya bisa macam-macam, menyangkut seluruh wilayah kehidupan manusia,"
Jadi, pesannya jelas. Langkah kecil yang konsisten, mulai dari piring kita sendiri, ternyata punya makna yang dalam.
Artikel Terkait
Menteri PUPR Tinjau Lahan Calon Rusun Subsidi 1.208 Unit di Bandung
KPK Dalami Dugaan Intervensi dalam Kasus Pemerasan Calon Perangkat Desa Pati
Polres Anambas Musnahkan 56,51 Gram Sabu dari Dua Kasus
SETARA Institute Soroti Ekstraktivisme sebagai Akar Pelanggaran HAM oleh Korporasi