Natal dan Seni Berbagi: Dari Memiliki Menuju Menjadi

- Kamis, 25 Desember 2025 | 09:15 WIB
Natal dan Seni Berbagi: Dari Memiliki Menuju Menjadi

Sadar bahwa kita tak bisa hidup sendirian, manusia punya keinginan untuk berbagi. Tapi, jangan salah, semangat berbagi itu bukan sesuatu yang otomatis muncul begitu saja. Mirip dengan ungkapan bahwa menjadi tua itu pasti, sementara menjadi dewasa adalah sebuah pilihan.

Begitu juga dengan keterbukaan hati untuk berbagi. Tak ada jaminan bahwa di usia tertentu, seseorang tiba-tiba jadi dermawan. Nyatanya, sikap serakah dan egois justru lebih sering menguasai diri.

Erich Fromm, filsuf Jerman, pernah mengupas soal ini dalam bukunya To Have or To Be?. Ia memaparkan dua orientasi hidup yang berbeda: "having" (memiliki) dan "being" (menjadi).

Kalau orientasi "having" mendorong orang untuk terus mengumpulkan, menguasai, dan mengamankan harta, orientasi "being" justru lebih menekankan pada pengalaman, relasi, dan pertumbuhan hidup. Perbedaan mendasar ini jelas memengaruhi cara seseorang menjalani hari-harinya.

Bagi yang berorientasi "having", identitas diri ditentukan oleh apa yang ia punya. Rasa takut kehilangan pun sangat besar. Sebaliknya, mereka yang berorientasi "being" memaknai identitasnya lewat apa yang dijalani, bukan sekadar apa yang dimiliki.

Dari sini, pandangan tentang berbagi pun berbeda. Bagi si "having", berbagi dianggap sebagai ancaman. Bagi si "being", berbagi justru memberi makna. Fromm sendiri bilang,

"The function of existential having, for human existence requires we have, take care of, and use certain things in order to survive."

Dengan kata lain, gaya hidup "having" menuntut ego yang kuat, rasa kepemilikan yang tinggi, dan ketakutan akan kehilangan. Sementara itu, semangat "being" mengajak kita menyentuh kenyataan yang lebih dalam. Setiap usaha untuk memperluas dimensi "menjadi" adalah upaya untuk mengenal diri, sesama, dan dunia ini dengan lebih baik.

Pengosongan Diri Allah

Natal justru mengajarkan kita semangat yang berbeda: pengosongan diri. Ini adalah ruang agar Allah bisa bekerja dalam hidup kita, termasuk dalam hal berbagi. Surat Filipi 2:6-8 menggambarkannya dengan jelas,

"Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."

Ungkapan itu adalah inti dari inkarnasi Allah yang menjadi daging, menjadi manusia dalam Yesus, demi kebaikan umat manusia. Dalam bahasa teologi, ini disebut Pertukaran Suci: Allah yang mahakuasa rela menjadi manusia yang lemah, agar manusia yang lemah dapat mengambil bagian dalam kehidupan ilahi.

Lewat perjumpaan dengan Yesus kisah hidup, belas kasih, ajaran, dan karya-Nya manusia belajar untuk hidup melampaui batas-batas kemanusiaannya yang sempit. Kesadaran akan teladan ini mendorong para pengikut-Nya untuk tidak sekadar mengejar "having", tetapi lebih mengutamakan "being".

Kekristenan, dengan demikian, membantu manusia bukan cuma untuk mengambil keuntungan dari dunia, melainkan untuk berbagi dan membawa kebaikan di mana pun ia berada. Hidup ini bukan sekadar soal menjadi tua, tetapi tentang bertumbuh dewasa. Bukan cuma jadi makin renta, tetapi jadi berkat bagi sesama. Seperti kata sebuah pepatah, "Jadilah seperti lilin, yang memang meleleh dan terbakar, tetapi setiap lelehannya menerangi sekitarnya!"

Yesus yang Berbagi

Yesus sendiri sudah berbagi sejak awal kisah hidup-Nya. Keluarga Yusuf sebenarnya bukan keluarga miskin. Mereka punya rumah untuk kelahiran anaknya. Tapi, rencana berantakan karena ada sensus penduduk yang memaksa mereka pulang ke kota asal. Akhirnya, Maria harus melahirkan di sebuah kandang domba.

Namun, justru di situlah letak keindahannya. Peristiwa itu jadi kesempatan bagi para gembala kelompok masyarakat yang termiskin waktu itu untuk datang menyembah. Di tempat yang sama, tiga orang majus dari timur yang kaya raya juga datang mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Yesus hadir dan berbagi untuk semua kalangan, baik yang sederhana maupun yang berada.

p>Semangat berbagi ini terus berlanjut sepanjang hidup-Nya. Ia peduli pada pemilik pesta di Kana dengan mengubah air menjadi anggur. Ia menyembuhkan seorang buta karena tergerak oleh belas kasihan. Ia menyapa perempuan Samaria yang dipandang rendah. Ia menerima Zakheus, si pemungut cukai yang dibenci banyak orang. Dan puncaknya, kematian-Nya di kayu salib menunjukkan bahwa kasih yang paling agung adalah menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabat-Nya.

Singkatnya, hidup Yesus adalah sebuah perjalanan panjang untuk berbagi. Dari semua kebaikan yang Ia lakukan, Ia tidak mendapat keuntungan materi apa pun. Tapi justru dengan berbagi, hidup-Nya menjadi sangat bermakna, baik bagi mereka yang langsung mengalami maupun bagi kita yang belajar dari kisah-Nya.

Tahun ini, PGI dan KWI mengusung tema "Tuhan hadir untuk menyelamatkan keluarga". Ajakan ini intinya mengajak kita untuk turut menghadirkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pesan Natal mereka tertulis,

"Kami mengajak keluarga-keluarga kristiani untuk mengalami kehadiran Tuhan dan memulihkan kembali relasi dengan Allah dan sesama, sebagaimana telah diteladankan oleh keluarga kudus di Nasareth. Lewat peristiwa Natal, Kristus hadir untuk menyelamatkan keluarga kita. Dengan demikian keluarga kristiani dapat menjadi perpanjangan kasih Allah yang menyelamatkan dunia."

Jadi, semangat berbagi, keinginan untuk saling menghangatkan, dan menjadi pahlawan bagi keluarga sendiri adalah panggilan nyata bagi kita semua. Di situlah kita belajar menjadi manusia seutuhnya, terutama di momen Natal ini. Bukan cuma sibuk dengan "having", tapi melengkapinya dengan semangat "being". Agar kita tak sekadar menua, tetapi bertumbuh penuh makna.

Selamat merayakan Natal. Mari jadi saksi kehadiran-Nya: saat kita sendiri merasakan penyertaan Tuhan, dan juga saat orang-orang di sekitar kita merasakannya melalui kita. Inilah saatnya mengalami pertukaran kudus itu saat kehadiran Tuhan yang menjadi lemah justru menguatkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih ilahi, lebih suka berbagi, dan lebih menjadi berkat, terutama bagi keluarga.

Martinus Joko Lelono. Pastor Katolik, Pengajar di Universitas Sanata Dharma.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar