MURIANETWORK.COM - Pada suatu Rabu di musim dingin tahun 1995, sebuah roket penelitian Norwegia yang meluncur untuk mempelajari aurora borealis hampir memicu krisis nuklir. Radar Rusia salah mengidentifikasi objek itu sebagai rudal balistik yang menuju Moskow, memicu alarm di seluruh rantai komando hingga ke Presiden Boris Yeltsin. Selama lebih dari satu jam yang mencekam, dunia berada di ambang kesalahpahaman yang berpotensi bencana, mengingatkan semua pihak betapa rapuhnya perdamaian di era pasca-Perang Dingin.
Detik-Detik Menegangkan di Ruang Kendali
Semuanya berawal dari pantuan layar radar di sebuah stasiun di Rusia utara. Para teknisi militer yang bertugas melihat sebuah titik bergerak cepat naik dari lepas pantai Norwegia. Dalam iklim geopolitik yang masih diliputi sisa-sisa kecurigaan Perang Dingin, pantauan tunggal itu langsung ditafsirkan sebagai ancaman potensial. Bagi para operator yang terlatih, logikanya mengerikan: sebuah rudal yang diluncurkan dari kapal selam di perairan tersebut bisa membawa banyak hulu ledak nuklir ke ibu kota Rusia hanya dalam waktu lima belas menit.
Informasi itu pun berjalan cepat melalui hierarki militer. Dalam waktu singkat, situasinya sudah sampai ke meja Presiden Boris Yeltsin. Momen genting itu mendorong Yeltsin, untuk pertama kalinya, membuka "koper nuklir"-nya perangkat berisi kode dan instruksi untuk meluncurkan serangan balasan. Dia dan para penasihatnya kini dihadapkan pada pilihan yang mustahil: membalas serangan yang belum jelas, atau menunggu dan memastikan.
Kepanikan Global dan Pencarian Fakta
Sementara di Moskow situasi berkembang dengan tegang, gelombang kecemasan menyebar ke pusat-pusat kekuatan global. Pasar mata uang dunia berguncang. Para politisi, jenderal, dan jurnalis berusaha mati-matian mencari konfirmasi di tengah simpang siur informasi.
Presenter BBC Newsnight kala itu, Jeremy Paxman, melaporkan suasana yang mencekam. "Sebelum kami mengakhiri siaran ini, kami harus melaporkan perang nuklir tidak meletus hari ini," tuturnya, menggambarkan bagaimana laporan awal dari Moskow sempat menyebut sebuah misil telah ditembak jatuh.
Kebingungan memicu serangkaian penjelasan resmi yang berusaha menenangkan. Seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris dengan tegas menyatakan, "Saya yakin Inggris tidak menembakkan rudal apa pun ke Rusia."
Dari Pentagon, tanggapan yang terdengar adalah kebingungan yang sama. "Yang kami miliki hanyalah laporan dari laporan," kata Paxman mengutip sumbernya.
Kebenaran yang Menenangkan Akhirnya Terungkap
Ketegangan baru mulai mereda sekitar pukul 14.52 GMT, ketika kabar yang lebih akurat mulai beredar. Laporan dari agensi berita Interfax dikoreksi: rudal yang terdeteksi sistem peringatan dini Rusia ternyata mendarat di wilayah Norwegia, bukan sedang meluncur ke arah mereka.
Pihak berwenang Norwegia segera mengonfirmasi bahwa peluncuran itu murni untuk tujuan ilmiah. Roket tersebut adalah bagian dari misi rutin untuk meneliti Cahaya Utara atau aurora borealis, dan telah mendarat dengan selamat di dekat Spitzbergen, jauh dari wilayah udara Rusia. Ironisnya, Norwegia telah mengirimkan pemberitahuan resmi tentang rencana peluncuran ini ke Moskow beberapa minggu sebelumnya.
Kolbjørn Adolfsen, ilmuwan Norwegia yang terlibat dalam proyek tersebut, mengungkapkan keterkejutannya. "Saya sangat terkejut ketika mendengar tentang perhatian yang diberikan pada uji tembak rutin kami," jelasnya. Menurut Adolfsen, pemberitahuan khusus diberikan karena ini adalah peluncuran pertama roket penelitian dengan lintasan balistik setinggi itu, mencapai 908 mil. Namun, pesan diplomatik itu rupanya tersesat di birokrasi dan tidak sampai ke pihak militer Rusia yang bertugas.
Refleksi: Seberapa Dekat Dunia dengan Bencana?
Insiden ini, meski berakhir tanpa korban, meninggalkan bekas yang dalam dan memicu perdebatan di kalangan analis keamanan. Bagi sebagian pengamat, momen ketika Yeltsin membuka koper nuklirnya adalah titik yang sangat berbahaya.
Penasihat militer Peter Pry menulis, "Belum pernah sebelumnya seorang pemimpin negara nuklir membuka 'koper nuklir' Rusia secara serius, dalam situasi ancaman nyata dirasakan, dan keputusan untuk meluncurkan Armageddon secara instan mungkin terjadi." Seorang mantan pejabat CIA bahkan menyebutnya sebagai 'momen paling berbahaya dalam era misil nuklir'.
Namun, tidak semua sepakat dengan penilaian itu. Pavel Podvig, peneliti pelucutan senjata, memberikan penilaian yang lebih moderat. "Jika saya harus menilai kasus-kasus ini saya mungkin akan memberi nilai tiga dari sepuluh. Ada insiden yang jauh lebih serius selama Perang Dingin," ungkapnya. Dia bahkan menduga skenario pembukaan koper nuklir itu mungkin sengaja direkayasa untuk Yeltsin.
Pendapat senada disampaikan ahli nuklir Rusia Vladimir Dvorkin. "Bahkan ketika sistem peringatan memberi sinyal tentang serangan besar-besaran, tidak ada yang akan membuat keputusan itu, bahkan pemimpin irasional yang terkejut karena satu misil telah diluncurkan. Saya pikir ini adalah peringatan palsu," tegasnya kepada Washington Post pada 1998.
Peringatan yang Tertinggal dan Pelajaran yang Diambil
Lima hari setelah kejadian, pemerintah Rusia secara resmi menyatakan insiden itu sebagai "kesalahpahaman" dan menegaskan bahwa Norwegia telah bertindak sesuai prosedur. Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan tidak boleh ada dendam terhadap Oslo.
Kisah roket penelitian Norwegia pada Januari 1995 itu akhirnya mereda, berubah menjadi catatan kaki dalam sejarah. Namun, peristiwa itu berfungsi sebagai pengingat yang nyata dan menakutkan. Di dunia yang masih dipersenjatai ribuan hulu ledak nuklir, kesalahan komunikasi, kegagalan prosedur, atau sekadar pesan yang tidak sampai ke meja yang tepat, dapat membawa konsekuensi yang tak terbayangkan. Ia mengajarkan bahwa di era pasca-Perang Dingin sekalipun, hantu konflik nuklir belum sepenuhnya sirna, dan kewaspadaan serta kejelasan komunikasi antarnegara tetap menjadi harga mati untuk mencegah malapetaka.
Artikel Terkait
Marcelino Rarun Divonis Seumur Hidup atas Pembunuhan dan Pemutilasian Sepupu
Bhumjaithai Pimpin Perolehan Suara, Pemerintahan Koalisi Menjadi Keniscayaan
Tebing Ambruk di Bogor, 16 Jiwa Terancam Meski Tak Ada Korban
Laporan Warga via 110 Ungkap Peredaran Sabu di Pelalawan