Mengapa transendensi? Karena ia jelas menunjukkan kuasa dan kebesaran Allah SWT. Di sisi lain, bersifat antroposentris sebab Nabi Isa mengabdikan mukjizat itu sepenuhnya untuk menolong manusia, meringankan penderitaan dan kesusahan mereka.
Kepedulian Sosial
Energi spiritual Nabi Isa benar-benar ia dedikasikan untuk membantu sesama. Ia selalu berada di tengah mereka yang menderita, menumbuhkan sikap welas asih tanpa henti. Sikap peduli dan saling menyayangi inilah yang seharusnya terus kita rawat bersama.
Bayangkan andai semua umat beragama saling menyayangi. Dunia pasti lebih damai. Para pemimpin negara bisa bekerja sama, mengurangi gesekan dan persaingan kuasa yang tak sehat. Perbedaan keyakinan tak lagi jadi tembok pemisah, melainkan keragaman yang memperkaya. Dari situ, kita semua bisa saling mengambil hikmah.
Kita harus menjadi lebih kosmopolit, berpikir lebih luas. Keyakinan personal jangan sampai menghalangi hubungan sosial. Saya pribadi, sebagai muslim, mengajak untuk menumbuhkan Islam Kosmopolitan seperti yang selalu dicontohkan almarhum Gus Dur.
Beliau bisa bergaul dan bekerja sama dengan siapapun. Tak hanya dengan sesama muslim, tapi juga menerobos batas rumah ibadah. Gus Dur berteman mesra dan bekerja sama dengan para romo, pastor, bante, dan bedande, bahkan dengan tokoh-tokoh keyakinan lokal.
Semangat Natal ini perlu kita jadikan pengingat akan kebesaran Allah SWT. Pada saat yang sama, kita juga mesti merawat kisah kelahiran Isa ini. Ia punya dimensi yang mampu menerobos ruang dan waktu, menjahit kita semua menjadi lebih utuh sebagai sesama manusia. Tujuannya satu: menjadi rahmat bagi sekalian alam.
Said Abdullah, Ketua DPP PDI Perjuangan
Artikel Terkait
Pria Lansia di Banjarmasin Tewas Ditusuk Diduga oleh Adik Iparnya
Pemerintah Terapkan WFH bagi ASN Setiap Jumat Mulai April 2026
Harga Minyak Anjlok Usai Pernyataan Lunak Presiden Iran
Buronan Interpol Bos Mafia Skotlandia Ditangkap di Bandara Bali