Trump Ancam Iran dengan Konsekuensi Sangat Traumatis Jika Perundingan Nuklir Gagal

- Jumat, 13 Februari 2026 | 08:35 WIB
Trump Ancam Iran dengan Konsekuensi Sangat Traumatis Jika Perundingan Nuklir Gagal

MURIANETWORK.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras terhadap Iran terkait perundingan nuklir, dengan menyebut kegagalan mencapai kesepakatan akan membawa konsekuensi yang "sangat traumatis". Pernyataan ini disampaikan Trump pada Jumat (13/2/2026), di tengah pertimbangan Washington untuk memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah guna memberi tekanan lebih lanjut.

Ancaman Konsekuensi yang "Sangat Traumatis"

Dalam pernyataannya, Trump secara eksplisit menekankan bahwa jalan perundingan adalah pilihan yang harus ditempuh. Namun, nada yang digunakan juga membawa pesan tegas mengenai alternatif yang akan dihadapi Teheran jika meja perundingan menemui jalan buntu. Ancaman ini bukanlah retorika kosong, mengingat sejarah konflik militer antara kedua negara yang pernah terjadi sebelumnya.

"Kita harus mencapai kesepakatan, jika tidak, akan sangat traumatis, sangat traumatis. Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi kita harus mencapai kesepakatan," ujar Trump.

Ia kemudian melanjutkan dengan penegasan serupa, "Ini akan menjadi trauma yang sangat besar bagi Iran jika mereka tidak mencapai kesepakatan."

Bayangan Operasi Militer dan "Fase Kedua"

Latar belakang peringatan ini tampaknya tidak terlepas dari dinamika keamanan regional yang terus memanas. Trump disebut-sebut sedang mempertimbangkan untuk mengerahkan kapal induk kedua ke kawasan Timur Tengah, sebuah langkah yang secara umum dipandang sebagai eskalasi tekanan militer. Dalam konteks ini, Presiden AS itu tampaknya sengaja mengingatkan Iran pada serangan militer AS yang ia perintahkan terhadap fasilitas nuklir Iran sekitar setahun yang lalu, tepatnya selama konflik 12 hari antara Israel dan Iran pada Juli 2025.

Pilihan untuk tidak berkompromi, menurut Trump, akan memaksa AS untuk beralih ke rencana cadangan yang lebih keras. "Kita akan lihat apakah kita bisa mencapai kesepakatan dengan mereka, dan jika tidak, kita harus melanjutkan ke fase kedua. Fase kedua akan sangat sulit bagi mereka," tuturnya.

Pernyataan-pernyataan ini menggambarkan pendekatan Trump yang khas: menggabungkan tekanan diplomatik dengan ancaman militer yang nyata. Situasi ini menempatkan perundingan nuklir pada persimpangan yang kritis, di mana setiap langkah dari kedua belah pihak akan menentukan apakah krisis dapat diredam atau justru memasuki babak baru yang lebih berbahaya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar